Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat signifikan pada perdagangan hari Selasa, 18 Agustus 2026. Performa positif indeks domestik ini terutama ditopang oleh sektor energi yang melesat hingga 7,10 persen. Kenaikan sektor energi tersebut didorong oleh performa gemilang emiten batu bara raksasa yang membuat IHSG Naik 0,75% ke Level 6.449 Digendong Saham BYAN pada penutupan perdagangan sesi kedua.
Secara kumulatif, IHSG menguat sebesar 48 poin untuk parkir di level 6.449,83. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi motor utama penguatan indeks dengan melonjak 20 persen ke level Rp17.275 per lembar saham. Kontribusi BYAN sangat besar terhadap pergerakan indeks hari ini, yakni mencapai sekitar 52,76 poin. Kenaikan tajam ini bertepatan dengan beredarnya rumor di pasar bahwa pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, melalui Jhonlin Group, berencana membidik sekitar 62 persen saham pengendali di Bayan Resources.
IHSG Ditutup Menguat 0,74% ke 6.449,83 di Tengah Variasi Bursa Asia

Sepanjang hari perdagangan, aktivitas pasar saham terpantau cukup ramai. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp14,77 triliun dengan volume perdagangan melibatkan 33,65 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,19 juta kali transaksi. Berdasarkan data pergerakan saham, sebanyak 399 saham bergerak menguat, 236 saham melemah, dan 159 saham lainnya ditutup stagnan. Selain BYAN, beberapa emiten lain yang turut menyumbang poin bagi penguatan IHSG adalah Bumi Resources Minerals (BRMS) sebesar 4 poin, Merdeka Gold Resources (EMAS) 3 poin, serta Pradiksi Gunatama (PGUN) milik Haji Isam yang menyumbang 2 poin. Di sisi lain, laju indeks tertahan oleh pelemahan Bank Central Asia (BBCA) yang membebani minus 4,97 poin, Maha Properti Indonesia (MPRO) minus 3,52 poin, dan Mora Telematika Indonesia (MORA) minus 3,31 poin.
Dari dalam negeri, pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen setelah sempat menaikkan BI Rate secara agresif sebesar 75 basis poin pada periode April hingga Juni 2026. Investor juga mencermati data utang luar negeri Indonesia posisi Mei 2026 yang menyentuh US$444,40 miliar, level tertinggi dalam rangkaian data sejak 2007. Sementara itu, pemerintah telah merancang RAPBN 2027 dengan target pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara Rp4,097,2 triliun, serta defisit anggaran yang dipatok 2,40 persen dari PDB. Di sisi lain, BNPB memperbarui data korban meninggal akibat bencana gempa bumi di NTT yang kini mencapai 68 orang per 17 Agustus 2026, dengan penanganan yang sepenuhnya mengandalkan sumber daya domestik.
Rekomendasi Saham Hari Ini, Ada PGEO, PACK, hingga EXCL

Dari faktor global, sentimen pasar dibayangi oleh rilis data ekonomi dari beberapa negara mitra dagang utama. Perekonomian Jepang pada kuartal II-2026 tercatat tumbuh 0,3 persen secara kuartalan, berada di bawah ekspektasi analis sebesar 0,5 persen. Sementara itu, perekonomian China menunjukkan perlambatan setelah produksi industri bulan Juli hanya tumbuh 4,5 persen secara tahunan dan penjualan ritel tumbuh tipis 0,6 persen. Di Amerika Serikat, risalah pertemuan The Fed mengungkapkan adanya perbedaan pendapat di internal FOMC pada rapat Juli lalu, di mana tiga anggota menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Selain itu, ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz terus diwaspadai karena berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak global, nilai tukar rupiah, serta laju inflasi ke depan.






