Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum terus mematangkan langkah dalam rangka merealisasikan implementasi sistem transaksi tol nirsentuh yang dikenal sebagai Multi Lane Free Flow (MLFF). Saat ini, proses penerapan sistem MLFF tersebut masih berada pada tahap pra-uji coba. Tahap pra-uji coba ini dirancang untuk mencakup pelaksanaan tes fungsional atau functional test. Melalui serangkaian tes fungsional ini, diharapkan kesiapan teknologi sistem transaksi tol tanpa henti tersebut dapat dievaluasi secara menyeluruh sebelum nantinya siap untuk diterapkan secara lebih luas di berbagai jaringan jalan tol di Indonesia.
Perjalanan proyek MLFF ini memiliki sejarah yang cukup panjang sebagai bagian dari program modernisasi transaksi tol di Indonesia. Gagasan awal untuk memulai modernisasi sistem transaksi tol ini tercatat sudah mulai digagas sejak tahun 2018. Setelah melalui berbagai kajian awal, proyek pengembangan sistem MLFF ini kemudian pertama kali dibahas secara resmi pada tahun 2021. Upaya pengujian teknologi ini terus berlanjut hingga akhirnya sistem MLFF diuji coba secara langsung di Jalan Tol Bali Mandara, Bali, pada akhir Desember 2023 guna melihat kinerja sistem dalam kondisi lapangan yang nyata.
Menakar Progres Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset dan Poin Krusial yang Mengganjal

Dalam mengawal jalannya fase pra-uji coba ini, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) terus menjalin koordinasi yang erat dengan PT Roatex Indonesia Toll System (RITS). PT RITS bertindak sebagai Badan Usaha Pelaksana yang bertanggung jawab dalam implementasi proyek pra-uji coba MLFF tersebut. Kerja sama antara pemerintah dan pihak swasta ini didasarkan pada kontrak kerja sama PT RITS yang sudah berjalan sejak mereka menerima surat perintah kerja pada tanggal 15 Maret 2022. Sinergi ini dipimpin oleh para pejabat terkait, di antaranya Wilan Oktavian yang menjabat sebagai Kepala BPJT Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta Ni Komang Rasminiati yang bertindak sebagai Kepala BPJT sekaligus mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum.
Selama masa peralihan teknologi ini, pemerintah memastikan bahwa kenyamanan pengguna jalan tol tetap menjadi prioritas utama. Direktur PT RITS, Renaldi Utomo, mengonfirmasi bahwa dalam masa transisi menuju sistem nirsentuh sepenuhnya, sistem gerbang tol dengan palang masih dimungkinkan untuk digunakan oleh masyarakat. Hal ini berarti pengguna jalan tidak perlu khawatir akan perubahan sistem yang mendadak, karena gerbang tol dengan palang pembatas tetap dioperasikan selama fase transisi MLFF tersebut berlangsung secara bertahap.
Otorita Ibu Kota Nusantara Targetkan Uji Coba Taksi Terbang untuk IKN

Penerapan sistem transaksi modern ini juga mendapat perhatian dan tanggapan dari berbagai kalangan akademisi serta praktisi transportasi di tanah air. Salah satu pandangan datang dari Anton Budiharjo, seorang pengamat transportasi yang berasal dari Politeknik Transportasi Jalan. Selain itu, Danang Parikesit, yang merupakan pengamat transportasi sekaligus Guru Besar di Universitas Gadjah Mada, turut menyoroti aspek ketahanan infrastruktur jalan tol. Danang Parikesit menyatakan bahwa keberadaan kendaraan yang tergolong over-dimension over-load (ODOL) memiliki potensi besar untuk mempercepat kerusakan pada struktur jalan tol, suatu hal yang penting untuk diperhatikan dalam ekosistem transportasi secara keseluruhan seiring dengan rencana penerapan sistem transaksi baru ini.






