Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa sekitar 27.700 warga yang menjadi korban terdampak bencana gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ini masih harus bertahan di berbagai posko pengungsian. Para pengungsi yang berjumlah puluhan ribu tersebut kini tersebar di 107 titik pengungsian yang berada di tujuh kabupaten di wilayah NTT. Keterangan mengenai jumlah pengungsi dan sebaran titik penampungan ini disampaikan langsung oleh Kapolri saat meninjau lokasi pengungsian secara langsung di wilayah Reo, Manggarai, NTT, pada Selasa (19/8).
Saat berada di lokasi pengungsian tersebut, Jenderal Listyo Sigit menyempatkan diri untuk berbincang secara langsung dengan para korban gempa di posko utama yang terletak di Barang Kolong, Reo, Manggarai, NTT. Dalam rangkaian peninjauan ini, Kapolri tidak datang sendirian. Kapolri didampingi oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, untuk bersama-sama meninjau Posko Bencana Lambaleda yang berlokasi di Kabupaten Manggarai Timur. Kunjungan ini sekaligus memantau situasi terkini di lapangan, mengingat gempa susulan dilaporkan masih terus dirasakan di beberapa wilayah terdampak, khususnya di Kabupaten Manggarai.
Bencana gempa dengan kekuatan magnitudo 7,7 ini telah mengakibatkan dampak yang cukup besar bagi masyarakat di NTT. Menurut data yang disampaikan oleh Kapolri Listyo Sigit, tercatat ada sebanyak 1.245 orang yang menjadi korban akibat bencana alam tersebut. Dari total jumlah korban tersebut, rinciannya terdiri atas 67 orang meninggal dunia, 509 orang mengalami luka berat, serta 669 orang lainnya menderita luka ringan. Di sisi lain, data resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (17/8) mencatat bahwa sedikitnya terdapat 68 korban meninggal dunia akibat gempa bumi ini.
Mengukur Perkembangan Pembangunan IKN Jelang Upacara HUT RI

Sebagai bagian dari upaya tanggap darurat, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) telah mendirikan delapan posko tanggap bencana di wilayah terdampak. Dari total posko yang dibangun tersebut, satu posko tanggap bencana berlokasi di Pelabuhan Bajo, sedangkan tujuh posko lainnya didirikan di kantor polisi resor (polres) yang terdampak gempa di NTT. Keberadaan posko-posko ini diharapkan dapat mempermudah koordinasi penanganan darurat serta mempercepat penyaluran bantuan kepada warga yang membutuhkan.
Selain mendirikan posko tanggap bencana, Polri juga telah mengerahkan sebanyak 236 personel kepolisian untuk diperbantukan langsung ke wilayah NTT. Ratusan personel yang dikirimkan tersebut mengemban tugas penting, mulai dari membantu proses evakuasi warga, memberikan pelayanan kesehatan darurat, hingga menyelenggarakan kegiatan pemulihan trauma atau trauma healing bagi para korban terdampak. Dukungan personel ini diharapkan dapat membantu meringankan beban psikologis warga dan memulihkan kondisi fisik mereka pascabencana.
Sidang Kasus Kuota Haji, Kubu Gus Yaqut Minta Dakwaan Batal demi Hukum

Polri juga menyiagakan sejumlah alat transportasi udara untuk mendukung kelancaran operasi kemanusiaan ini di lapangan. Penyediaan transportasi udara tersebut disiapkan secara khusus untuk mempermudah proses evakuasi medis darurat serta mempercepat pengiriman bantuan logistik menuju wilayah-wilayah terisolasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Dengan adanya dukungan transportasi udara ini, Polri berupaya memastikan seluruh bantuan dapat didistribusikan dengan cepat dan merata kepada para pengungsi di berbagai pelosok daerah terdampak.






