BFI Finance Buktikan Disiplin Risiko Jadi Kunci Pertumbuhan Laba

Nyaring AranPublished 27 Jul 2026 - 07.130 Reads
Bagikan WhatsAppX
BFI Finance Buktikan Disiplin Risiko Jadi Kunci Pertumbuhan Laba
Foto/Ilustrasi: ekonomi.republika.co.id.
A-A+

Di tengah dinamika pasar keuangan yang menantang pada paruh pertama tahun 2026, PT BFI Finance Indonesia Tbk berhasil membuktikan bahwa kehati-hatian dalam mengelola risiko adalah kunci pertumbuhan yang sehat. Perusahaan pembiayaan ini sukses membukukan laba bersih sebesar Rp 828,9 miliar sepanjang semester pertama 2026. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 8,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sebuah pencapaian yang memperkokoh posisi perseroan di industri pembiayaan nasional.

Keberhasilan BFI Finance menjaga laju pertumbuhan ini tidak lepas dari komitmen mereka dalam menerapkan prinsip kehati-hatian. Ketika banyak pelaku industri berjuang menekan kredit macet, perseroan justru mencatatkan rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) bruto di level 1,55 persen dan NPF neto sebesar 0,27 persen per akhir Juni 2026. Angka-angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri pembiayaan yang masing-masing menyentuh 3,06 persen dan 0,85 persen. Disiplin pengelolaan risiko ini juga diperkuat dengan penyediaan cadangan yang memadai, di mana rasio kecukupan pencadangan (coverage ratio) terhadap NPF bruto mencapai 2,63 kali.

Also Read

Mengapa Konflik Timur Tengah Gagal Dongkrak Harga Emas

Dari sisi ekspansi bisnis, emiten berkode BFIN ini tetap agresif namun terukur dengan menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp 10,7 triliun hingga akhir Juni 2026. Segmen kendaraan roda empat, baik melalui skema pembiayaan kembali (refinancing) maupun kredit mobil bekas, masih menjadi motor utama penggerak bisnis perseroan. Kinerja pembiayaan baru ini turut mendorong total aset perusahaan mencapai Rp 25,1 triliun, sementara piutang pembiayaan yang dikelola naik sebesar 3,6 persen secara tahunan menjadi Rp 26,5 triliun. Pendapatan perseroan pun terkerek naik 3,7 persen menjadi Rp 3,4 triliun.

Kesehatan keuangan BFI Finance juga tecermin dari rasio profitabilitas yang solid, dengan tingkat pengembalian aset (Return on Assets/RoA) sebesar 8,1 persen dan pengembalian ekuitas (Return on Equity/RoE) di angka 15,1 persen. Sementara itu, gearing ratio perseroan tercatat sangat aman di level 1,2 kali, jauh di bawah batas maksimal yang ditetapkan regulator sebesar 10 kali. Kinerja yang prima ini langsung berdampak manis bagi para pemegang saham. Berdasarkan hasil keputusan rapat umum pemegang saham pada 20 Mei 2026, perseroan telah merealisasikan pembagian dividen tunai senilai Rp 1,036 triliun, yang setara dengan 65,5 persen dari total laba bersih tahun buku 2025. Dividen ini dibagikan sebesar Rp 70 per saham, terbagi atas dividen interim Rp 35 pada akhir tahun lalu dan dividen final Rp 35 pada pertengahan Juni tahun ini.

Also Read

Siasat Pendanaan Pusat Finansial Baru Indonesia Tanpa Menguras APBN

Demi memperkuat tata kelola dan menghadapi tantangan masa depan, BFI Finance juga melakukan penyegaran dalam jajaran manajemennya pada semester pertama tahun ini. Perseroan mengangkat Djemi Suhenda dan Abdul Haris Muhammad Rum sebagai Komisaris Independen yang baru, serta menunjuk Amitoaj Singh untuk mengisi posisi Direktur Manajemen Risiko. Presiden Direktur BFI Finance, Sutadi, menegaskan bahwa keseimbangan antara pertumbuhan usaha dan kualitas pembiayaan akan terus dijaga demi menciptakan nilai jangka panjang. Menurutnya, kepercayaan dari konsumen, mitra, regulator, dan pemegang saham menjadi bahan bakar utama bagi perseroan untuk konsisten menyajikan kinerja yang tidak hanya sehat, tetapi juga berkelanjutan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca