PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membukukan kinerja keuangan yang positif pada paruh pertama tahun ini. Sepanjang Semester I 2026, bank swasta terbesar di Indonesia tersebut berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp29,5 triliun. Angka perolehan laba bersih ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,8 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Selain pertumbuhan laba, pencapaian signifikan juga terlihat pada sektor intermediasi perusahaan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, penyaluran kredit BCA berhasil menembus angka psikologis Rp1.000 triliun. Secara terperinci, total penyaluran kredit BCA pada Semester I 2026 mencapai Rp1.036 triliun, atau mengalami pertumbuhan sebesar 8 persen secara tahunan (yoy).
Laju pertumbuhan kredit yang positif ini ditopang oleh berbagai program strategis yang diselenggarakan oleh perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini. Salah satu program pendorong utama yang sukses memacu penyaluran kredit adalah pelaksanaan BCA Expoversary 2026. Di samping itu, dorongan kuat juga datang dari penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor usaha. BCA mencatat pembiayaan ke sektor produktif ini mencapai nilai Rp802 triliun, yang mencerminkan peningkatan sebesar 11 persen yoy.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Jika ditinjau berdasarkan segmennya, pembiayaan untuk korporasi masih menjadi penopang utama dengan nilai mencapai Rp513,4 triliun. Segmen korporasi ini mengalami pertumbuhan sebesar 13,6 persen yoy. Sementara itu, kredit yang disalurkan untuk sektor komersial dan usaha kecil dan menengah (UKM) tercatat sebesar Rp288,5 triliun, atau tumbuh sebesar 6,6 persen yoy pada Semester I 2026.
BCA juga menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembiayaan berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pembiayaan hijau (green financing) yang disalurkan oleh perseroan meningkat sebesar 19 persen yoy hingga mencapai Rp123 triliun pada Semester I 2026. Di dalam kategori pembiayaan hijau ini, pembiayaan berkelanjutan khusus untuk sektor energi terbarukan mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 82 persen yoy menjadi Rp7,7 triliun. Tidak hanya itu, penyaluran kredit untuk kendaraan bermotor listrik juga turut meningkat sebesar 25 persen yoy dengan nilai mencapai Rp4 triliun.
Dari sisi kualitas aset dan manajemen risiko, bank swasta nasional ini menjaga indikator kesehatannya tetap stabil dan terkendali. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BCA tercatat berada di level 1,9 persen. Sementara itu, rasio loan at risk (LAR) perseroan berada pada posisi 4,9 persen pada periode paruh pertama tahun ini.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Pencapaian kinerja penyaluran kredit tersebut diimbangi oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang kokoh. Hingga akhir Juni atau Semester I 2026, DPK BCA mengalami kenaikan sebesar 7,9 persen yoy menjadi Rp1.284 triliun. Pertumbuhan DPK ini didominasi oleh dana murah, di mana giro dan tabungan (CASA) tumbuh sebesar 10,2 persen yoy hingga mencapai Rp1.082 triliun. Dengan hasil tersebut, porsi CASA kini mendominasi dengan kontribusi mencapai 84,3 persen dari keseluruhan total DPK yang dihimpun oleh BCA.
Informasi kinerja keuangan dan operasional perseroan untuk Semester I 2026 ini dipublikasikan pada Selasa (28/7). Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, mengonfirmasi data pencapaian kinerja keuangan perseroan yang menunjukkan tren pertumbuhan yang solid baik dari sisi profitabilitas maupun intermediasi perbankan.






