Menggoda konsumen dengan tawaran bernilai tak sampai setengah harga pecel lele, Transmart kembali menyulap hari Minggu menjadi medan belanja sengit. Minggu, 26 Juli 2026, jaringan ritel itu menggelar Full Day Sale sejak pintu gerai dibuka hingga pukul 22.00 WIB. Di tengah belasan kategori produk yang diobral, satu dagangan mencuri perhatian: peralatan makan dan minum yang banderol akhirnya cuma Rp12.000. Bukan sekadar angka murah, harga ini menyimpan resep andalan peritel untuk mengerek volume transaksi, sembari menguji seberapa kuat daya tarik barang rumah tangga di kala orang makin selektif mengisi keranjang belanja.
Sedari awal, perlengkapan dapur itu sudah mengalami penurunan tajam. Harga normalnya bertengger di kisaran Rp50.000, lalu dipangkas menjadi Rp15.000 khusus pada hari diskon. Akan tetapi manisnya belum berhenti. Pelanggan yang bertransaksi menggunakan kartu kredit Bank Mega, Bank Mega Syariah, atau Bank Mandiri mendapat potongan ekstra, mengempiskan nominal akhir ke level Rp12.000. Syaratnya tunggal: jumlah belanja sekurang-kurangnya Rp300.000 dalam satu struk. Artinya, dari harga awal, konsumen bisa mengantongi selisih sampai Rp38.000 untuk barang yang sama—sebuah godaan yang sulit dilewatkan bagi pemburu diskon. Ketentuan ini sekaligus mendorong siapa pun yang semula hanya mengincar piring murah untuk menambah entri belanja hingga melampaui ambang batas.
Mengapa Trader Kripto Lebih Sering Nyangkut? Ini Akar Psikologisnya

Kolaborasi dengan bank penerbit kartu itu membuka jendela ke strategi ritel modern: harga supermurah berfungsi sebagai pintu masuk, sementara nilai transaksi minimum menjadi mesin pendorong penjualan kategori lain. Tidak sulit membayangkan konsumen yang tadinya berniat membawa pulang satu set gelas Rp12.000 akhirnya melirik deretan produk rumah tangga, sembako, furnitur, kosmetik, fesyen, hingga elektronik yang juga dibekali diskon bersusun hingga 50%+20%. Promosi berlapis semacam ini mengubah satu item murah menjadi perekat yang merangkai berbagai kebutuhan ke dalam satu nota, memberi konsumen ilusi penghematan total sekaligus menstabilkan margin toko dari barang-barang bermargin lebih tebal.
Dari sudut psikologi belanja, penetapan harga dasar Rp12.000 menciptakan kesan “nyaris gratis” bagi perlengkapan esensial. Angka itu terasa ringan di dompet, tetapi efek psikologisnya cukup besar untuk membenarkan langkah ke rak-rak lain. Di saat bersamaan, tenggat waktu yang hanya berlaku sepanjang hari dan stok yang tidak disebutkan batasnya menambah tekanan tak kasatmata: kalau tidak hari ini, besok harga kembali normal. Tim pemasaran Transmart paham betul bahwa ritme akhir pekan adalah momen emas ketika keluarga punya kelonggaran waktu dan keinginan untuk mengisi rumah, sehingga Full Day Sale ditempatkan sebagai penutup minggu yang mengikat rencana belanja.
Belum Genap Dua Pekan Melantai, Direktur RANS Mundur

Tak pelak, perhelatan diskon ini mencerminkan peta persaingan ritel yang kian bergantung pada kehadiran fisik gerai. Di era digital, toko luring seperti Transmart tetap memanfaatkan keunggulan pengalaman sentuh dan lihat langsung dalam waktu terbatas. Perlengkapan makan yang dapat dipegang, diperiksa kualitasnya, lalu dibawa pulang dengan banderol Rp12.000, jadi jangkar yang mempertemukan logika hemat dan sensasi berburu barang murah. Bagi konsumen yang ingin menyegarkan meja makan tanpa merogoh kocek dalam, Minggu besok adalah jawaban yang datang tepat sebelum gajian menipis. Maka, gerai terdekat siap menyambut pembeli yang sudah mengantongi daftar belanja siluman: semula hanya satu piring, akhirnya sepaket gorden, cemilan, dan kipas angin.






