Bank Dunia resmi menunjuk mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, sebagai Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk proses pengisian kembali pendanaan (replenishment) Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA) ke-22. Dalam menjalankan tugas baru ini, Sri Mulyani akan memimpin jalannya proses penggalangan dana kemanusiaan tersebut bersama Paschal Donohoe, yang saat ini menjabat sebagai Managing Director sekaligus Chief Knowledge Officer Grup Bank Dunia. Penunjukan ini menempatkan tokoh ekonomi asal Indonesia tersebut di barisan depan upaya penyelamatan finansial bagi negara-negara miskin.
Siklus pengisian dana yang dikenal sebagai proses IDA22 ini dijadwalkan akan dimulai secara resmi pada pertemuan Mid-Term Review di Tashkent, Uzbekistan, pada Desember 2026 mendatang. Setelah rangkaian pembahasan dan negosiasi yang panjang, pertemuan akhir untuk penggalangan komitmen pendanaan (pledging meeting) diperkirakan berlangsung pada Desember 2027. Keputusan dan komitmen yang disepakati dalam rangkaian pertemuan IDA22 tersebut nantinya akan menentukan besaran pembiayaan konsesional yang tersedia bagi 78 negara berpendapatan rendah hingga tahun 2031.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Asosiasi Pembangunan Internasional atau IDA sendiri merupakan salah satu pilar utama Bank Dunia yang berfokus pada pengentasan kemiskinan ekstrem. Lembaga ini secara rutin mengadakan pertemuan pengisian kembali pendanaan setiap tiga tahun sekali guna menghimpun modal baru yang akan disalurkan kepada negara-negara termiskin di dunia. Bantuan finansial yang diberikan oleh IDA umumnya berupa hibah langsung serta pinjaman dengan bunga nol atau sangat rendah untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1960, lembaga ini tercatat telah menyalurkan dana investasi dengan nilai akumulatif mencapai lebih dari US$632 miliar ke 115 negara di berbagai belahan dunia. Peran strategis ini menjadikan posisi ketua bersama sangat vital dalam mengarahkan kebijakan bantuan ke depan.
Proses terpilihnya Sri Mulyani sebagai pemimpin dalam agenda krusial ini tidak terjadi secara instan. Namanya disaring dari daftar kandidat potensial yang diseleksi ketat oleh komite pencarian khusus. Komite tersebut beranggotakan perwakilan dari negara-negara donor yang menyumbang dana serta negara-negara peminjam yang menerima manfaat program. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari komunitas internasional terhadap integritas dan kemampuan kepemimpinannya. Di samping penunjukan barunya di lembaga keuangan global ini, Sri Mulyani saat ini juga tengah mengemban tanggung jawab akademis sebagai Blavatnik World Leaders Fellow untuk periode tahun 2025-2026 di University of Oxford, sebuah posisi prestisius yang memperkuat perannya di dunia akademik internasional.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Rekam jejak Sri Mulyani di kancah keuangan domestik maupun internasional memang dinilai sangat relevan dengan mandat barunya ini. Sebelum dipercaya mengawal dana IDA22, ia mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia. Di tingkat global, ia juga pernah menduduki posisi strategis sebagai Managing Director dan Chief Operating Officer (COO) Bank Dunia, menjadikannya sangat paham dengan birokrasi dan mekanisme operasional lembaga tersebut. Reputasi kepemimpinannya di sektor publik dan ekonomi makro pun telah diakui secara luas, salah satunya dengan keberhasilannya masuk dalam jajaran daftar 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia versi majalah Forbes. Tugas barunya di IDA22 ini diproyeksikan akan memperkuat diplomasi ekonomi multilateral dalam menjembatani kebutuhan pembiayaan negara-negara berkembang di tengah tantangan ekonomi global yang dinamis.






