Bank DBS Indonesia sukses menyelenggarakan forum bisnis bertajuk DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World. Pertemuan berskala besar ini berlangsung di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, pada hari Rabu, 15 Juli 2026. Acara yang dihadiri langsung oleh Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong ini terbagi ke dalam empat sesi diskusi panel terstruktur. Setelah memaparkan berbagai analisis ekonomi, perhelatan ini ditutup dengan Gala Dinner yang mengusung tema spesifik "The Future Growth of Indonesia".
Dinamika geopolitik global menjadi latar belakang utama pembahasan dalam forum ini, terutama setelah terpilihnya kembali Donald Trump di Amerika Serikat. Peristiwa politik tersebut dinilai memicu ketidakpastian baru dalam lanskap ekonomi dunia yang kini mengarah pada sistem multipolar. Para pelaku pasar dituntut untuk lebih cermat dalam membaca arah kebijakan perdagangan internasional serta dampaknya terhadap pasar keuangan domestik.
Salah satu topik yang menjadi sorotan utama adalah perkembangan industri teknologi global. Saat ini, wilayah Asia mendominasi sekitar 65 persen dari total ekspor barang-barang pendukung kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di seluruh dunia. Kendati demikian, Indonesia saat ini belum masuk ke dalam daftar 20 besar negara eksportir barang-barang terkait AI. Posisi tersebut justru ditempati oleh negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, seperti Filipina dan Malaysia. Untuk mengantisipasi dinamika ini, para pengelola dana menyarankan agar sebagian alokasi portofolio investasi dialihkan ke instrumen yang dinilai tangguh terhadap inflasi, salah satunya adalah sektor industri AI.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Di sisi lain, pergerakan pasar modal dalam negeri juga tidak terlepas dari risiko penurunan. Secara historis, Indonesia tercatat pernah mengalami beberapa kali periode penurunan pasar modal, yakni pada tahun 2008, 2012, dan 2015. Menghadapi fluktuasi pasar yang tidak menentu tersebut, terdapat beberapa sektor yang patut dicermati oleh para investor. Ketiga sektor utama yang direkomendasikan untuk diperhatikan selama masa fluktuasi ini adalah sektor komoditas, konsumer, serta telekomunikasi.
Analisis mendalam mengenai peluang investasi dan kondisi politik-ekonomi ini disampaikan oleh para panelis terkemuka. Di antaranya adalah Executive Director Charta Politica Yunarto Wijaya, Head of Distribution PT Eastspring Investment Indonesia Reza Darma, Director PT Ashmore Asset Management Indonesia Steven Yudha, serta Head of Research PT Bank DBS Indonesia William Simadiputra. Masing-masing pembicara memberikan perspektif dari sudut pandang riset, manajemen aset, hingga analisis geopolitik.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Meskipun dibayangi oleh ketidakpastian global, Indonesia dipandang masih memiliki daya tarik yang kuat. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN dengan populasi penduduk yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa, potensi pertumbuhan jangka panjang Indonesia dinilai tetap menjanjikan. Selain itu, berbagai langkah strategis yang diambil oleh regulator dalam negeri mulai mendapatkan traksi serta apresiasi dari lembaga pemeringkat internasional terkemuka, seperti MSCI dan Standard & Poor's (S&P).
Guna mendukung nasabah dalam mengelola aset di tengah pergeseran ekonomi global ini, Bank DBS Indonesia terus memperkuat komitmennya melalui layanan wealth management. Layanan tersebut diwujudkan melalui kehadiran DBS Treasures dan DBS Treasures Private Client. Atas kinerjanya dalam mengelola kekayaan nasabah, Bank DBS Indonesia berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi pada tahun 2026, termasuk Indonesia's Best Private Bank 2026 dari FinanceAsia, Best Priority Banking Experience 2026 dari Asian Banking & Finance, serta penghargaan Best Wealth Manager Highly Commended dari The Asset.






