Pemerintah Republik Indonesia memastikan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan liquefied petroleum gas (LPG) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, setelah dirinya melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada hari Selasa (28/7). Langkah ini diambil untuk memberikan kepastian bagi masyarakat di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global saat ini.
Pertemuan antara Menteri ESDM dan Presiden Prabowo tersebut secara khusus membahas perkembangan situasi geopolitik global, terutama konflik yang masih terus berlangsung di kawasan Timur Tengah. Ketegangan di wilayah tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena berpotensi memengaruhi stabilitas rantai pasok energi dunia. Kendati situasi global penuh dengan dinamika, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri agar tidak membebani daya beli masyarakat luas.
Selain membahas kebijakan harga, dalam kesempatan menghadap Kepala Negara tersebut, Bahlil juga melaporkan kondisi terkini mengenai ketahanan energi Indonesia. Pemerintah menjamin bahwa pasokan energi nasional tetap berada dalam kondisi yang aman. Menurut laporan resmi yang disampaikan oleh Bahlil, stok cadangan BBM nasional, minyak mentah (crude oil), serta pasokan LPG saat ini berada di atas standar minimum nasional yang telah ditentukan. Ketersediaan stok yang berada di atas ambang batas aman ini menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk mempertahankan harga BBM dan LPG subsidi.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi sebelumnya sempat mencuat seiring dengan pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional. Akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang sempat mengganggu jalur pelayaran dan pengiriman pasokan energi penting melalui Selat Hormuz, harga minyak dunia dilaporkan sempat melonjak hingga mendekati level US$100 per barel. Namun, tekanan tersebut mulai mereda seiring dengan perkembangan pasar terbaru. Pada sesi perdagangan yang berlangsung hari Selasa (28/7), harga minyak mentah Brent tercatat mengalami penurunan sekitar 5 persen menjadi US$91,89 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan harga ke level US$84,64 per barel.
Di samping pengelolaan pasokan BBM konvensional dan LPG, pemerintah juga terus mematangkan rencana jangka panjang terkait transisi energi. Salah satu fokus yang tengah dipersiapkan adalah pengembangan industri etanol di dalam negeri sebelum pemerintah secara resmi menerapkan kebijakan campuran bioetanol yang lebih tinggi. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa rantai pasok dari sektor hulu hingga hilir telah benar-benar siap dan mandiri.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Lebih lanjut, penerapan kebijakan mandatori E20, yaitu bahan bakar bensin dengan campuran 20 persen etanol, baru akan dilaksanakan setelah kapasitas industri etanol domestik dinilai sudah siap sepenuhnya. Pemerintah memilih untuk tidak terburu-buru menerapkan mandatori ini demi menjaga stabilitas pasokan bahan bakar nasional yang saat ini sudah berjalan dengan baik. Melalui persiapan industri yang matang, diharapkan program bioetanol ke depan dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa menimbulkan kendala pasokan di pasar domestik.






