Pasar modal Indonesia tengah bersiap menghadapi tekanan eksternal yang cukup berat pada pembukaan pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bakal melanjutkan tren pelemahan setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya terperosok hingga 1,90 persen atau melemah 118,88 poin ke posisi 6.196,43. Para pelaku pasar kini harus bersikap realistis di tengah gempuran sentimen global yang kurang bersahabat, meskipun rilis laporan keuangan domestik diharapkan mampu menjadi penahan kejatuhan indeks lebih dalam.
Faktor utama yang membayangi pergerakan indeks adalah kebijakan perdagangan agresif dari Washington. Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja memberlakukan tarif impor baru terhadap lebih dari 80 negara mitra dagang dengan alasan kegagalan mengatasi praktik kerja paksa. Kebijakan proteksionis ini mencakup hampir seluruh lini perdagangan luar negeri AS, yakni mencapai 99,4 persen. Selain perang tarif, eskalasi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran di kawasan Laut Merah turut membuat investor global menahan diri, yang tercermin dari melemahnya saham-saham sektor semikonduktor di Wall Street.
Eskalasi Geopolitik Global Bayangi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan

Di sisi lain, fluktuasi harga komoditas energi masih membayangi pasar seiring potensi serangan militer AS ke Iran. Kendati demikian, tekanan pada harga minyak mentah sedikit mereda berkat adanya inisiatif damai yang diupayakan Pakistan dengan sokongan dari China. Selain ketegangan geopolitik, fokus perhatian investor global pada pekan ini juga tersedot oleh agenda penting perbankan sentral. Pertemuan Bank Sentral AS (The Fed), rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua, serta data inflasi PCE di AS akan menjadi rujukan utama arah kebijakan moneter ke depan. Agenda serupa juga dinantikan dari benua Eropa dan keputusan suku bunga Bank of Japan di Asia.
Melihat kondisi tersebut, analis pasar modal memperkirakan IHSG akan menguji level psikologis baru. Berdasarkan analisis teknikal dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, pergerakan indeks menunjukkan pola long black opening marubozu candle yang mengindikasikan tren bearish kuat, didukung oleh penurunan volume transaksi dan indikator Stochastic K_D yang negatif. Rentang pergerakan IHSG hari ini diperkirakan berada pada level dukungan (support) 6.137 hingga 6.012, sementara level resistansi diproyeksikan pada rentang 6.261 hingga 6.416. Sementara itu, Phintraco Sekuritas memproyeksikan indeks berpotensi melemah lebih jauh untuk menguji area 6.000 hingga 6.100.
Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Komponen Pesawat dan LPG untuk Stimulus Industri

Meski dibayangi sentimen negatif global, harapan pasar kini bertumpu pada kinerja fundamental emiten dalam negeri. Musim rilis laporan keuangan korporasi untuk kuartal kedua dan semester pertama tahun 2026 diharapkan dapat memicu aksi perburuan saham murah (bargain hunting) pada saham-saham berfundamental kokoh. Untuk menavigasi pasar yang fluktuatif ini, beberapa saham direkomendasikan oleh para analis untuk dicermati investor, di antaranya BBCA, TPIA, BULL, AKRA, TOWR, dan BRIS, serta pilihan lain seperti ISAT, KLBF, dan UNVR.






