Pemerintah Vietnam mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 8,18 persen pada semester pertama tahun ini. Capaian ini menjadi landasan awal bagi negara tetangga Indonesia tersebut dalam upaya mengejar ambisi besar mereka, yakni mencetak pertumbuhan ekonomi hingga dua digit pada tahun 2026. Meskipun angka pertumbuhan pada paruh pertama tahun ini tergolong kuat, tantangan nyata untuk merealisasikan target jangka panjang tersebut tetaplah besar. Agar sasaran ambisius yang telah ditetapkan oleh pemerintah dapat terpenuhi, pertumbuhan ekonomi Vietnam pada kuartal kedua harus mampu dipacu hingga mencapai tingkat minimal sebesar 11,9 persen.
Sebagai bagian dari strategi untuk menopang target akselerasi ekonomi yang sangat tinggi tersebut, pemerintah Vietnam memutuskan untuk memperkuat sektor fisik secara signifikan. Langkah nyata yang diambil adalah dengan menaikkan target investasi untuk pembangunan infrastruktur hingga mencapai angka yang setara dengan 7 persen dari total PDB negara tersebut. Alokasi dana yang besar ini diarahkan untuk membangun sarana penunjang ekonomi yang diharapkan dapat memfasilitasi aktivitas industri serta perdagangan demi mendorong pertumbuhan yang lebih cepat.
Namun, di tengah upaya keras memacu perekonomian ini, muncul peringatan mengenai kondisi kesehatan sektor keuangan dalam negeri. Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings memberikan catatan kritis mengenai ketahanan sektor keuangan Vietnam. Menurut Fitch Ratings, sistem perbankan di Vietnam saat ini masih berada dalam kondisi yang lebih rentan terhadap potensi guncangan eksternal jika dibandingkan dengan sistem perbankan yang dimiliki oleh negara-negara tetangganya di kawasan regional. Kerentanan ini menjadi perhatian serius karena stabilitas sektor keuangan sangat menentukan keberlanjutan ekspansi ekonomi suatu negara dalam jangka panjang.
BPJPH Dorong Sertifikasi Halal Gratis UMK Jelang Wajib Halal Oktober 2026

Salah satu faktor risiko utama yang disorot adalah potensi lonjakan penyaluran kredit yang dinilai terlalu agresif. Fitch memproyeksikan bahwa pertumbuhan kredit perbankan di Vietnam akan mengalami peningkatan hingga mencapai kisaran 18 persen pada tahun 2026. Angka proyeksi pertumbuhan kredit ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan pedoman pertumbuhan kredit yang telah ditetapkan oleh bank sentral Vietnam, yakni sebesar 15 persen. Selisih tiga persen ini menunjukkan adanya tekanan ekspansi yang melebihi batas panduan keselamatan moneter yang telah direncanakan oleh otoritas keuangan setempat.
Fitch Ratings memperingatkan bahwa ketidakseimbangan antara laju pertumbuhan kredit dan pertumbuhan simpanan masyarakat dapat memicu masalah baru bagi industri perbankan Vietnam. Ketika penyaluran kredit tumbuh jauh lebih cepat daripada pengumpulan dana simpanan, likuiditas perbankan di negara tersebut berpotensi mengalami pengetatan yang signifikan. Selain memperketat likuiditas, ketimpangan ini juga berisiko memberikan tekanan yang kuat terhadap margin bunga bersih atau net interest margin dari bank-bank yang beroperasi di sana. Jika margin bunga bersih ini tertekan, kemampuan bank untuk menghasilkan keuntungan dan menumpuk modal guna menahan guncangan ekonomi juga akan melemah.
Pemerintah Jamin Ekonomi Tetap Terkendali Pascakenaikan PPN 12 Persen

Ketidakpastian mengenai keberhasilan pencapaian target ekonomi ini juga terlihat dari perbedaan proyeksi antara pemerintah Vietnam dengan lembaga pemeringkat internasional. Di saat pemerintah setempat menargetkan pertumbuhan ekonomi dua digit untuk tahun 2026, Fitch Ratings justru mengeluarkan proyeksi yang jauh lebih konservatif. Lembaga tersebut memperkirakan bahwa ekonomi Vietnam hanya akan tumbuh sebesar 6,8 persen pada tahun 2026. Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi negara tetangga RI tersebut diproyeksikan akan sedikit melambat menjadi 6,7 persen pada tahun 2027 mendatang.
Perbedaan proyeksi yang cukup signifikan ini menggambarkan adanya celah ketidakpastian yang nyata antara ambisi politik-ekonomi pemerintah dengan realitas kapasitas sistem keuangan di lapangan. Upaya mengejar pertumbuhan tinggi melalui investasi infrastruktur dan penyaluran kredit yang masif terbukti harus dibayar dengan meningkatnya risiko kerentanan perbankan terhadap guncangan dari luar. Bagi para pelaku pasar dan pengambil kebijakan, peringatan dari Fitch Ratings ini menjadi sinyal penting bahwa ambisi mengejar angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak boleh mengabaikan kesehatan fundamental sektor perbankan yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.






