Abon Ikan Pelagis, Benang Emas Ekonomi Pesisir Lebak

Usat NgajiPublished 26 Jul 2026 - 02.04 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Abon Ikan Pelagis, Benang Emas Ekonomi Pesisir Lebak
Foto/Ilustrasi: news.republika.co.id.
A-A+

Dari dapur sederhana di Kecamatan Binuangeun, Bedah (45) setiap hari mengawetkan rezeki laut selatan menjadi serat-serat abon berwarna keemasan. Bukan sekadar lauk rumahan, abon ikan buatannya kini menjadi bahan baku bernilai tinggi yang dipasok ke perusahaan-perusahaan di Jakarta dan Tangerang. Dalam sebulan, sedikitnya 500 kilogram abon meninggalkan tangannya dengan harga Rp150 ribu per kilogram – menyumbang omzet sekitar Rp75 juta. Daya simpannya mampu bertahan hingga delapan bulan tanpa sentuhan pengawet, menjaga cita rasa gurih dan kekayaan protein yang membuat produk ini diterima luas setelah dikemas dan dilabeli dengan merek UMKM "Bu Bedah".

Kunci dari semua itu terletak pada hamparan Samudera Hindia di perairan selatan Banten. Di sana, ikan pelagis besar seperti tuna, cakalang, tenggiri, marlin, wahoo, sarden, barakuda, hingga tongkol berlimpah. Tuna menjadi bintang dengan bobot per ekor bisa mencapai 60 kilogram, dihargai Rp40 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram tergantung kualitas. Sebagian tangkapan langsung diekspor melalui perusahaan di Jakarta, sedangkan sisanya menyuplai industri pengolahan lokal – termasuk dapur-dapur kecil seperti milik Bedah.

Also Read

Mengapa Trader Kripto Lebih Sering Nyangkut? Ini Akar Psikologisnya

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, Winda Triana, menegaskan bahwa ikan pelagis besar telah menjadi tumpuan utama mata pencaharian 3.635 nelayan setempat. Setiap tahun, produksi tangkapan berkisar antara 6.000 hingga 7.500 ton. Data dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) menunjukkan nilai transaksi bulanan mencapai sekitar Rp8 miliar atau nyaris Rp96 miliar setahun, dengan kontribusi terbesar berasal dari komoditas pelagis besar. Rantai nilai yang terbentang dari nelayan, pedagang, pengolah, hingga distributor menciptakan efek ekonomi yang melebihi sekadar jual beli ikan segar.

Hilirisasi di tingkat rumah tangga itulah yang memperkuat daya tahan ekonomi pesisir. Ratusan pelaku UMKM kini bermunculan mengolah hasil laut menjadi abon, kerupuk ikan, bakso, ikan asin, pindang, otak-otak, dendeng, rendang ikan, hingga aneka camilan. Bagi Winda, pengembangan industri pengolahan semacam ini adalah kunci memperlebar serapan tenaga kerja dan memberikan nilai tambah yang sebelumnya hilang begitu saja di tempat pelelangan.

Also Read

Belum Genap Dua Pekan Melantai, Direktur RANS Mundur

Di sisi hulu, kepastian stok ikan memberikan jaminan hidup bagi nelayan seperti Rohman (55). Dalam sekali melaut selama sepekan, pria yang berlabuh di Pangkalan Pendaratan Ikan Binuangeun itu bisa membawa pulang pendapatan bersih sekitar Rp1,8 juta, setelah dipotong biaya operasional. Angka itu mungkin tak besar, tetapi konsistensinya membuat roda ekonomi keluarga terus berputar. Dari tangan Rohman, ikan segar berpindah ke pedagang, lalu sebagian berakhir di dapur Bedah, menjelma abon gurih yang menyeberang batas desa. Laut selatan tak hanya memberi hasil tangkapan, melainkan juga merajut jejaring rezeki yang saling menguatkan di sepanjang pesisir Lebak.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca