10,2 Ton Kemiri Olahan Sulsel Meluncur ke Jeddah, Bukti Nyata Pendampingan UMKM Berbuah Pasar Global

Andi TobanPublished 26 Jul 2026 - 02.12 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
10,2 Ton Kemiri Olahan Sulsel Meluncur ke Jeddah, Bukti Nyata Pendampingan UMKM Berbuah Pasar Global
Foto/Ilustrasi: news.republika.co.id.
A-A+

Sebuah kontainer berisi 10,2 ton kemiri olahan akhirnya meninggalkan pelabuhan Makassar menuju Jeddah, Arab Saudi, menandai bukan sekadar pengiriman barang, melainkan juga melesatnya kepercayaan diri pelaku usaha kecil Sulawesi Selatan. Pengiriman ini menjadi tonggak yang membuktikan bahwa produk komunitas lokal mampu menembus rantai pasok internasional, asalkan ada tangan-tangan terampil yang konsisten membersamai perjalanan mereka.

Di balik capaian itu, persoalan klasik masih membayangi: ongkos logistik yang kerap menggerogoti daya saing. Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, tidak menampik bahwa biaya distribusi menjadi batu sandungan utama bagi eksportir pemula. Menurutnya, pendampingan terhadap UMKM harus melampaui seremoni pelepasan barang. Ia menekankan pentingnya intervensi langsung untuk memangkas biaya kirim, memperkuat jejaring dagang, sekaligus membuka celah lebih lebar di panggung perdagangan global. Dengan kata lain, pemerintah provinsi ingin menempatkan diri sebagai mitra yang ikut berhitung dan mencari solusi, bukan sekadar pemberi semangat.

Semangat itu berakar pada peta jalan ekonomi Sulsel yang terus menggenjot hilirisasi. Komoditas setempat tidak lagi dikirim dalam bentuk mentah, melainkan diolah terlebih dahulu untuk memperoleh nilai tambah. Kemiri yang biasanya dijual sebagai bahan baku, kini diproses dan dikemas sesuai standar negara tujuan. Fatmawati menyebut UMKM sebagai tulang punggung perekonomian daerah. Selama para pelaku usaha bersedia berinovasi, menjaga konsistensi mutu, dan lincah membaca selera pasar, pintu ke berbagai negara diyakini akan terus terbuka.

Also Read

Mengapa Trader Kripto Lebih Sering Nyangkut? Ini Akar Psikologisnya

Keberhasilan ekspor kemiri ini tidak datang tiba-tiba. Di belakangnya ada Program REWAKO – singkatan dari Resilient, World Class, Agile, and Knowledgeable – yang digulirkan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan. Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wipanda, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai pendampingan menyeluruh, melampaui sekadar pelatihan singkat. UMKM digandeng mulai dari mengurus legalitas usaha, meningkatkan kapasitas produksi, melakukan riset pasar, hingga difasilitasi penjajakan bisnis yang mempertemukan mereka langsung dengan calon pembeli mancanegara.

Lewat REWAKO, sejumlah UMKM juga mendapat kesempatan unjuk gigi di pameran berskala internasional, seperti Trade Expo Indonesia dan Anging Mammiri Business Fair. Ajang-ajang itu berperan sebagai etalase yang memamerkan bukan hanya barang, tetapi juga kesiapan dan profesionalitas produsen lokal. Rizki mengingatkan bahwa menembus pasar global bukan proses yang instan. Ia menegaskan perlunya pendampingan berkelanjutan agar UMKM benar-benar matang menghadapi persaingan, mulai dari standarisasi produk hingga negosiasi kontrak ekspor.

Also Read

Teddy Indra Wijaya Buka Kalender Acara Indonesia 2026, Ajak Masyarakat Jelajah Negeri

Sinergi antara pemerintah provinsi dan bank sentral di Sulawesi Selatan ini memperlihatkan bahwa efisiensi logistik dan daya saing global tidak bisa diserahkan semata-mata pada semangat pelaku usaha. Perlu ekosistem yang utuh: kebijakan yang memihak, akses permodalan, pelatihan terstruktur, serta panggung promosi yang memadai. Kiriman 10,2 ton kemiri olahan ke Jeddah mungkin hanyalah satu dari ribuan langkah kecil, tetapi dari sinilah jejak UMKM Sulsel menuju pasar dunia terus dipertegas.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca