Kabupaten Bogor sering kali diidentikkan dengan wilayah basah yang berlimpah air. Namun, potret buram kekeringan justru terpampang nyata di Kampung Cijaura, Desa Cidokom, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada Minggu, 26 Juli 2026, keindahan alam kawasan penyangga ibu kota ini seolah tertutup oleh kabut krisis yang mencekik kehidupan sehari-hari warganya. Kemarau panjang yang melanda kawasan tersebut telah memaksa masyarakat setempat berhadapan dengan kenyataan pahit yaitu hilangnya akses terhadap air bersih yang layak konsumsi.
Di tengah terik matahari akhir Juli tersebut, satu-satunya sumber mata air yang tersisa di kampung itu menjadi pusat pertahanan hidup. Sayangnya, kondisi air yang diperebutkan jauh dari kata higienis. Alih-alih jernih, air yang keluar dari ceruk tanah tersebut telah bercampur dengan lumpur kecokelatan. Kendati demikian, warga tidak memiliki pilihan lain. Bagi mereka, air keruh yang bercampur tanah itu tetaplah harta karun berharga yang harus diperjuangkan demi menyambung hidup di tengah cekaman musim kemarau.
KRL Angke鈥揗anggarai Sempat Terganggu akibat Mobil Tertemper di Antara Tanah Abang-Karet

Perjuangan mendapatkan air ini bukan hanya menjadi beban orang dewasa. Anak-anak di Kampung Cijaura terpaksa kehilangan waktu bermain mereka demi membantu keluarga. Tampak anak-anak kecil dengan setia menemani ibu mereka, berjongkok di dekat kubangan air berlumpur, lalu perlahan-lahan menyendok cairan keruh tersebut ke dalam wadah penampungan. Pemandangan ini memperlihatkan betapa krisis lingkungan langsung berdampak pada kelompok paling rentan, memaksa pundak-pundak kecil ikut memikul beban hidup yang berat.
Setelah wadah-wadah plastik terisi penuh dengan air keruh, perjuangan belum selesai. Warga harus memikul beban berat tersebut berjalan kaki melewati jalanan desa. Dengan menggunakan bilah bambu yang diletakkan di atas bahu, jeriken dan ember bergelantungan di kedua ujungnya, bergoyang seiring langkah kaki yang letih. Setiap tetes air berlumpur itu sangat berharga, sehingga mereka harus berjalan ekstra hati-hati agar air yang diperoleh dengan susah payah tidak tumpah di tengah jalan.
Nasib Praperadilan Febrie Adriansyah Ditentukan Pekan Ini

Krisis yang mendera Desa Cidokom ini menjadi alarm keras mengenai dampak nyata dari perubahan cuaca ekstrem dan kemarau panjang yang kian tidak menentu. Ketika satu-satunya mata air di kampung tersebut mulai menyusut dan menyisakan lumpur, ketahanan domestik warga benar-benar diuji pada tingkat yang paling mendasar. Kehidupan sehari-hari kini tidak lagi berputar pada produktivitas ekonomi atau pendidikan, melainkan menyusut menjadi sebuah pertanyaan sederhana namun krusial yaitu bagaimana cara mendapatkan air untuk hari esok.






