Kondisi perekonomian di Argentina kini berada dalam situasi yang sangat menantang. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir di bawah kepemimpinan Presiden Javier Milei, tingkat tunggakan utang di kalangan keluarga di negara tersebut melonjak tajam hingga tiga kali lipat. Angka kemacetan kredit ini menembus level tertingginya selama dua dekade terakhir. Bank Sentral Argentina mencatat bahwa sekitar 5,8 juta orang saat ini telah menunggak pembayaran utang mereka selama lebih dari 90 hari. Dari total 46 juta populasi di negara itu, sekitar 21 juta orang tercatat memiliki berbagai bentuk pinjaman aktif.
Krisis keuangan rumah tangga ini dipicu oleh kebijakan penghematan anggaran yang diterapkan secara agresif oleh Presiden Milei. Pemerintah memotong berbagai subsidi penting mulai dari transportasi, gas, obat-obatan, hingga kebutuhan pokok lainnya. Akibatnya, banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dasar tanpa berutang. Sebagai contoh, Claudia Debaste, seorang ibu tunggal berusia 40 tahun, terpaksa menunggak tagihan utilitas, transportasi, bahan makanan, dan obat-obatan sejak empat bulan lalu. Warga lainnya, Andrea yang berusia 32 tahun, mengalami lonjakan utang yang luar biasa dari satu juta peso atau sekitar Rp 11,92 juta menjadi lima juta peso atau sekitar Rp 59,8 juta setelah membeli sebuah oven.
Ekonom Sebut Mempertahankan BI-Rate di Level 5,75 Persen sebagai Opsi Terbaik

Di tengah kesulitan yang dihadapi warganya, Presiden Javier Milei menolak keras untuk disalahkan atas situasi penumpukan utang ini. Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, ia mempertanyakan apakah ada pihak yang menodongkan pistol ke kepala warga untuk memaksa mereka mengambil pinjaman. Namun, pandangan ini disanggah oleh Juan Cuattromo selaku Presiden Banco Provincia Buenos Aires. Menurut Cuattromo, kemerosotan finansial ini bukanlah akibat dari keputusan individu semata, melainkan dampak nyata dari konteks makroekonomi yang memperburuk pendapatan masyarakat, ketersediaan lapangan kerja, serta aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Laporan dari Pusat Ekonomi Politik Argentina juga menunjukkan bahwa pinjaman pribadi dan kartu kredit menyumbang lebih dari 70 persen dari total porsi pinjaman macet di negara tersebut.
Masalah ini kian diperparah oleh maraknya penawaran kredit mudah dari platform dompet digital seperti Mercado Pago, yang merupakan anak usaha pembayaran dari raksasa e-commerce Mercado Libre. Platform teknologi finansial ini bahkan menyasar remaja berusia mulai dari 13 tahun untuk menggunakan layanan kredit mereka. Praktik ini memicu reaksi keras dari Gabriel Solano, pemimpin Partai Pekerja, yang mengajukan pengaduan pidana terhadap CEO Mercado Libre, Marcos Galperin, atas tuduhan praktik riba. Solano mengungkapkan bahwa total biaya keuangan efektif dari pinjaman di Mercado Pago dapat mencapai angka fantastis sebesar 1.375 persen.
Pemerintah Lanjutkan Insentif Kendaraan Listrik Melalui Perusahaan Terpilih

Di sisi lain, para pekerja lepas di sektor gig economy juga terjebak dalam lingkaran utang ini. Mereka dibebani suku bunga pinjaman mulai dari 260 persen per tahun, yang setara dengan empat kali lipat bunga bank konvensional. Apabila para pekerja ini gagal membayar tagihan tepat waktu, mereka menghadapi risiko pemblokiran akun secara permanen yang otomatis memutus mata pencaharian mereka. Situasi ini membuat perwakilan serikat pekerja sekaligus pengemudi layanan pesan antar, Leandro Hidalgo, melayangkan tuduhan bahwa platform-platform tersebut tengah mempraktikkan bentuk perbudakan finansial terhadap para pekerjanya.






