Tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia tercatat masih menjadi yang tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Berdasarkan data pada Mei 2026, tingkat pengangguran lulusan SMK mencapai angka 7,68 persen. Angka ini melampaui tingkat pengangguran lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berada di angka 6,17 persen, serta lulusan perguruan tinggi yang mencatatkan tingkat pengangguran sebesar 6,09 persen. Fenomena menarik justru terlihat pada lulusan dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, yang mencatatkan tingkat pengangguran paling rendah, yaitu hanya sebesar 2,31 persen.
Kondisi tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan SMK ini terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebenarnya tumbuh positif sebesar 5,29 persen. Meskipun ekonomi mengalami pertumbuhan yang cukup baik, penyerapan tenaga kerja di sektor formal, khususnya industri, terpantau masih sangat minim. Sebagai gambaran, sepanjang periode Februari hingga Mei 2026, sektor industri di Indonesia hanya mampu menambah sekitar 9.000 pekerja saja. Angka penyerapan yang sangat kecil ini memperlihatkan adanya ketimpangan antara laju pertumbuhan ekonomi dengan penciptaan lapangan kerja formal.
Kelesuan dalam penyerapan tenaga kerja baru ini juga tercermin secara jelas dari indikator bisnis di sektor manufaktur. Komponen tenaga kerja dalam indeks bisnis manufaktur di Indonesia berada pada level 49,92. Angka indeks yang berada di bawah ambang batas 50 ini mengindikasikan terjadinya kontraksi dalam aktivitas perekrutan tenaga kerja oleh pelaku industri. Hal ini menunjukkan bahwa dunia usaha atau industri manufaktur cenderung menahan diri atau membatasi perekrutan pekerja baru selama periode tersebut.
Kelanjutan Kasus Pailit Sritex, Rencana Penyelamatan Ekonomi dan Perkembangan Lelang Aset

Menanggapi ketimpangan ini, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memberikan analisisnya. Menurut Yusuf Rendy Manilet, masalah utama dari tingginya angka pengangguran lulusan SMK ini bukan semata-mata karena keterbatasan jumlah lapangan pekerjaan secara umum di Indonesia. Persoalan mendasar yang lebih krusial adalah belum selarasnya kompetensi yang dihasilkan oleh sistem pendidikan vokasi dengan kebutuhan riil yang dicari oleh dunia industri. Akibat dari ketidakselarasan kompetensi ini, para lulusan SMK yang dipersiapkan untuk langsung bekerja justru kesulitan untuk diserap oleh pasar kerja industri formal.
Di sisi lain, struktur perekonomian Indonesia saat ini masih didominasi oleh sektor informal dan jenis pekerjaan dengan produktivitas rendah yang tidak membutuhkan keterampilan spesifik. Sektor informal ini tercatat menampung sekitar 59,3 persen dari total tenaga kerja di Indonesia. Karena karakteristik pekerjaan di sektor informal ini tidak mensyaratkan keahlian khusus, lulusan dengan pendidikan rendah seperti SD ke bawah justru lebih mudah terserap ke dalam pasar kerja ini, yang menjelaskan mengapa tingkat pengangguran mereka menjadi yang paling rendah yakni 2,31 persen.
Indofarma Terima Pinjaman Rp 220 Miliar dari Bio Farma di Tengah Tunggakan Hak Karyawan

Tantangan ketenagakerjaan di Indonesia juga terlihat dari kualitas jam kerja para pekerjanya. Saat ini, tercatat sekitar sepertiga dari pekerja di Indonesia masih bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Kondisi ini turut menjadi sorotan bagi pengamat ekonomi dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi. Dengan dominasi sektor informal serta rendahnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri formal, penyelarasan antara arah pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan pekerja melalui ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi Indonesia.






