Upaya menjaga kualitas kopi arabika Kintamani kini memasuki babak baru dengan penerapan teknologi tepat guna di tingkat petani. Di Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, para petani kopi mulai memperkuat proses pascapanen mereka. Langkah ini diambil untuk mengatasi kendala klasik dalam pengolahan kopi, yakni tingginya risiko kegagalan proses fermentasi serta inkonsistensi mutu dan cita rasa produk akhir. Intervensi teknologi ini dihadirkan melalui kolaborasi tim Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan (PDB) dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dan Universitas Warmadewa.
Tantangan utama yang dihadapi oleh industri kopi rakyat sering kali berakar pada proses hulu dan menengah. Menurut Ketua Tim PDB, I Wayan Lasmawan, pengendalian mutu di kedua tahapan tersebut menjadi salah satu persoalan krusial bagi petani. Tanpa alat ukur dan wadah yang memadai, proses fermentasi dan pengeringan kopi kerap bergantung pada perkiraan manual yang kurang konsisten. Untuk menjembatani celah teknologi ini, tim kolaborasi menyalurkan perangkat pendukung kepada dua unit usaha kopi lokal di Desa Belantih, yaitu Belantih Coffee Farm dan Kelompok Tani Dharma Kriya.
Manchester United Jajaki Transfer Carlos Baleba dari Brighton

Bagi Belantih Coffee Farm yang dikelola oleh I Wayan Tunas Wijaya, kedatangan teknologi baru ini menjadi solusi atas keterbatasan wadah konvensional yang selama ini digunakan. Unit usaha ini menerima empat unit tabung fermentasi Kegland FermZilla Gen3 Tri-Conical dengan kapasitas total mencapai 220 liter. Alat fermentasi khusus ini dilengkapi dengan fitur pemantauan visual, katup pembuangan (dump valve), serta sambungan Tri-Clover. Kehadiran fitur-fitur tersebut memungkinkan proses fermentasi biji kopi berjalan secara lebih higienis, terkontrol, dan dapat diukur secara presisi.
Di sisi lain, Kelompok Tani Dharma Kriya memfokuskan pembenahan pada tahap pengeringan biji kopi. Di bawah pimpinan I Wayan Selamat, kelompok tani ini mendapatkan satu unit alat pengukur kadar air, yaitu Wile Coffee & Cocoa Moisture Meter, yang memiliki rentang pengukuran antara 6 hingga 27 persen. Akurasi dalam menentukan kadar air ini sangat vital bagi petani. Pasalnya, jika kadar air kopi belum mencapai angka tepat 12 persen saat dimasukkan ke dalam gudang penyimpanan, biji kopi akan sangat rentan diserang jamur. Dengan alat pengukur ini, petani kini dapat menentukan waktu pengeringan secara lebih akurat.
Yuri Apresiasi Solusi Pemerintah atas Ricuh di Kantor PT Timah

Program penguatan teknologi pascapanen di sentra kopi Kintamani ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dukungan finansial dan pembinaan ini ditujukan untuk mendorong transformasi manajemen usaha pertanian ke arah berbasis digital di pusat-pusat industri kopi Bali. Melalui integrasi alat ukur kadar air dan tabung fermentasi modern ini, para petani di Desa Belantih diharapkan dapat mempertahankan reputasi cita rasa kopi arabika Kintamani di pasar yang lebih luas.






