Sinode Gereja Toraja Mamasa Jadi Panggung Penguatan Empat Pilar Kebangsaan

Nyaring AranPublished 26 Jul 2026 - 15.350 Reads
Bagikan WhatsAppX
Sinode Gereja Toraja Mamasa Jadi Panggung Penguatan Empat Pilar Kebangsaan
Foto/Ilustrasi: news.detik.com.
A-A+

Di dataran tinggi Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, sebuah perhelatan rohani bertransformasi menjadi ruang dialog kebangsaan yang hangat. Sidang Majelis Sinode Am (SMSA) XXI Gereja Toraja Mamasa (GTM) di Klasis Balla Sattoko tidak hanya menjadi ajang evaluasi pelayanan jemaat, tetapi juga menyaksikan kehadiran negara yang mendekap erat nilai-nilai keagamaan. Pimpinan Badan Penganggaran Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ajbar turun langsung ke forum itu pada Sabtu (25/7/2026), membawa pesan bahwa rumah ibadah dan panggung politik kebangsaan sesungguhnya berpijak pada fondasi yang sama.

Langkah MPR RI itu merupakan pengakuan terstruktur atas peran strategis lembaga keagamaan dalam merajut kembali serat-serat persatuan yang kadang longgar. Dalam sidang yang dihadiri para pendeta, majelis gereja, utusan jemaat, serta tokoh masyarakat dari segenap wilayah pelayanan GTM, Ajbar menyelenggarakan Sarasehan Kebangsaan. Forum interaktif itu mengangkat implementasi Empat Pilar MPR RI鈥擯ancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika鈥攕ebagai kompas hidup bersama. Kehadirannya menjadi penegasan bahwa sinode gereja bukan cuma milik jemaat, melainkan juga bagian dari tenunan kebangsaan Indonesia.

Also Read

Cetak Biru Bansos Koperasi Merah Putih Mendadak, DPR Meraba-raba

Ajbar memaparkan bahwa nilai kasih, persaudaraan, toleransi, dan gotong royong yang diajarkan gereja berjalan searah dengan roh konstitusi. Ia menekankan, karakter masyarakat yang dibangun dari mimbar-mimbar keagamaan merupakan pilar tak kasatmata yang menopang keutuhan NKRI. Maka, dalam kesempatan tersebut, ia mengajak segenap peserta sidang untuk memaknai kembali panggilan beriman sebagai panggilan memperkokoh bangsa. Ajakan itu bukan tanpa alasan: di tengah derasnya arus polarisasi, lembaga keagamaan dinilai memiliki daya rekat yang melampaui sekadar doktrin teologis.

Sarasehan tersebut berkembang menjadi percakapan dua arah yang hidup. Para peserta tidak ragu menyampaikan pandangan mereka tentang cara mengaktualisasikan Empat Pilar dalam keseharian jemaat dan lingkungan masyarakat. Dialog yang terbangun menunjukkan komitmen bersama untuk menerjemahkan Pancasila bukan sekadar hafalan di dinding kelas, tetapi sebagai napas yang dihidupi dalam interaksi warga. Antusiasme di Klasis Balla Sattoko menandaskan bahwa ruang-ruang keagamaan di pelosok negeri menyimpan energi besar untuk merawat kebinekaan.

Also Read

Nadi Baru Integritas dari Meja Keuangan Bawaslu Gorontalo

MPR RI berharap jalinan serupa terus direplikasi. Kolaborasi dengan Gereja Toraja Mamasa dan organisasi keagamaan lain dipandang sebagai jalan sunyi namun pasti untuk membangun masyarakat Indonesia yang religius, toleran, dan berkarakter. Sinode Am XXI GTM pun mencatatkan diri bukan sekadar lembaran agenda internal gereja, melainkan sebuah monumen kecil bahwa iman dan kebangsaan, di tangan yang tepat, saling mengukuhkan tanpa perlu dipertentangkan.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca