Deru mesin sepeda motor yang biasa menyulam pagi di Desa Merah Mata mendadak lenyap. Sejak Rabu malam, 22 Juli 2026, satu-satunya jembatan yang merajut antarpermukiman dan ladang warga hanya tersisa puing beton di tengah sungai. Bagi ratusan kepala keluarga, runtuhnya jembatan bukan sekadar putusnya hubungan fisik, melainkan matinya urat nadi ekonomi yang menghubungkan hasil bumi mereka dengan pasar di Palembang.
Peristiwa nahas itu bermula ketika sebuah ponton pengangkut pasir melintasi alur sungai yang sempit pada malam hari. Tubuh ponton yang besar menghantam tiang jembatan dengan keras, membuat konstruksi yang sudah berkali-kali digerogoti insiden serupa tak mampu bertahan. Warga yang mendengar bunyi runtuhan segera mendatangi lokasi dan mengamankan ponton. Setelah perundingan singkat, pemilik ponton menyatakan siap bertanggung jawab, tetapi belum bisa memastikan kapan pembangunan ulang akan dimulai. Sementara itu, hanya perahu getek kecil yang disediakan untuk menyeberangkan warga鈥攖anpa kendaraan, tanpa muatan panen, hanya tubuh yang bisa melintas.
PSMS Medan Tantang Juara Bertahan Port FC di Laga Pembuka Piala Presiden

Kepala Desa Merah Mata, Septian, mengungkapkan bahwa ini adalah kali ketiga jembatan tersebut ambruk akibat tabrakan ponton pasir. Sungai yang seharusnya menjadi jalur transportasi justru berubah menjadi ancaman permanen karena intensitas ponton pengangkut material tambang yang terus memburu. Pemerintah desa telah berulang kali membawa persoalan ini ke meja pemkab dan DPRD Banyuasin, meminta pengelolaan lalu lintas sungai yang lebih melindungi akses masyarakat. Septian menegaskan warganya sudah jenuh dengan siklus perbaikan yang hanya sementara; mereka mendesak solusi tuntas agar sejarah serupa tidak kembali terulang.
Di pihak lain, Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyatakan bahwa pembangunan dan perbaikan jembatan memang menjadi prioritas. Kepala Dinas PUPR Banyuasin, M. Ryan Aditya Saputra, menyebut Jembatan Desa Merah Mata akan dibangun kembali memakai dana APBD karena berulang kali rusak ditabrak. Sementara itu, pemkab baru saja meresmikan jembatan baru di Desa Margo Mulyo sepanjang 60 meter dengan lebar 4 meter, serta memulai pembangunan duplikasi Jembatan Tanah Kering yang akan menghubungkan Kecamatan Pulau Rimau dan Selat Penuguan. Dua proyek itu memamerkan semangat konektivitas daerah, namun kontras dengan realitas jembatan kecil di Merah Mata yang kembali roboh di tengah rencana yang belum juga terwujud.
Pelat Daerah Itu Milik Gran Max, Terpasang di Alphard yang Terobos Lampu Merah HI

Ketiadaan jembatan memaksa para petani yang baru saja memanen sawit dan karet menunda pengiriman ke kota. Harga yang bergantung pada kecepatan jual terancam merosot. Warga hanya bisa menatap seberang sungai dari atas getek kayu, sementara sepeda motor dan mobil menganggur tanpa suara. Harapan mereka kini tertambat pada janji pembangunan yang lebih kokoh, namun yang lebih penting adalah pengelolaan lalu lintas sungai yang mampu melindungi jembatan dari amukan ponton pasir. Tanpa itu, desa ini akan terus terjebak dalam keheningan setiap kali beton jembatan kembali retak.






