Sambut Purnama Safar, Umat Islam Bisa Puasa Ayyamul Bidh pada Akhir Juli 2026

Parlin SinagaPublished 26 Jul 2026 - 22.40 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Sambut Purnama Safar, Umat Islam Bisa Puasa Ayyamul Bidh pada Akhir Juli 2026
Foto/Ilustrasi: tirto.id.
A-A+

Langit malam di penghujung Juli 2026 akan dihiasi cahaya purnama yang terang benderang. Momen terangnya bulan pada pertengahan Safar 1448 Hijriah itu membawa kabar gembira bagi umat Islam yang ingin memperbanyak amal ibadah. Pada tiga hari berturut-turut, Selasa, Rabu, dan Kamis (28, 29, 30 Juli 2026), terbentang kesempatan menjalankan puasa sunah Ayyamul Bidh, amalan yang mengiringi penampakan bulan purnama.

Nama Ayyamul Bidh sendiri berarti hari-hari putih, merujuk pada malam yang disinari bulan penuh sehingga langit tampak putih cemerlang. Secara teknis, puasa ini dikerjakan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Pada Juli 2026, yang bertepatan dengan Safar 1448 H, awal bulan jatuh pada Kamis 16 Juli. Dengan perhitungan itu, puasa hari putih akan mengisi hari Selasa hingga Kamis terakhir di bulan Juli, menjadikannya penutup yang penuh berkah sebelum memasuki bulan baru.

Also Read

Garuda Pertiwi Tunjukkan Kemajuan meski Tumbang Lagi di Jecheon

Pelaksanaannya sederhana, tetapi kesungguhan niat menjadi kunci. Sebagian ulama menganjurkan niat dibaca sejak malam hari, dari terbenam matahari hingga sebelum fajar menyingsing. Namun, kelonggaran juga diberikan bagi yang baru teringat di siang hari, asalkan belum melakukan hal yang membatalkan puasa. Lafal niat yang biasa digunakan adalah “Nawaitu shauma ayyaamil bidl sunnatan lillahi ta'aala,” yang artinya “Saya niat puasa Ayyamul Bidh, sunnah karena Allah Ta’ala.” Dengan kalimat ringkas itu, seorang muslim meneguhkan tekadnya untuk mengikuti sunah yang sangat dianjurkan.

Dorongan untuk menghidupkan tiga hari putih ini tidak datang tanpa alasan. Dalam riwayat Imam Bukhari, Abu Hurairah menyampaikan wasiat Rasulullah yang tidak pernah ia tinggalkan hingga wafat: berpuasa tiga hari tiap bulan, mendirikan salat Dhuha, dan mengerjakan salat Witir sebelum tidur. Kebiasaan Rasulullah itu diabadikan pula dalam hadis Ibnu Abbas yang direkam An-Nasa’i, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering tidak makan pada hari-hari yang malamnya cerah, baik saat bermukim maupun dalam perjalanan.” Anjuran ini diperkuat oleh hadis dari Abu Dzar yang menyebut perintah khusus untuk berpuasa tanggal 13, 14, dan 15. Puncak keutamaannya, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, puasa Ayyamul Bidh diibaratkan seperti puasa sepanjang tahun. Perumpamaan itu menjadi penyemangat spiritual bahwa amalan singkat dapat menghasilkan pahala yang berlipat.

Also Read

Ketika 'Londo Ireng' Kembali Menghantui Kebebasan Pers

Di luar nilai pahala, menjalankan puasa sunah ini membentuk kedisiplinan diri. Pengosongan perut tiga hari berturut-turut melatih menahan hawa nafsu dan mengistirahatkan sistem pencernaan. Secara batin, ia menuntun seseorang semakin dekat dengan Allah. Karena itu, puasa Ayyamul Bidh bukan sekadar rutinitas akhir bulan, melainkan warisan kenabian yang menjembatani kesehatan lahir dan batin. Bagi yang belum membiasakan diri, akhir Juli 2026 bisa menjadi titik awal untuk mengamalkan wasiat kekasih Allah dan membiarkan cahaya purnama Safar menyelimuti laku ibadah.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca