Jabatannya sebagai menteri pendidikan bukan sekadar posisi administratif. Dharmendra Pradhan adalah salah satu sosok paling tangguh dan setia di lingkar inti kabinet Perdana Menteri Narendra Modi. Namun, benteng kekuasaan yang selama 12 tahun tak tersentuh gelombang protes itu akhirnya jebol juga. Pada Sabtu (25/7/2026), Pradhan menyatakan mundur, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya di era dominasi Partai Bharatiya Janata. Ia takluk bukan oleh manuver partai lawan di parlemen, melainkan oleh gerbong anak-anak muda yang menamakan diri Cockroach Janata Party (CJP)—Partai Rakyat Kecoa.
Nama itu mungkin terdengar jenaka, tapi kehadirannya menjelma sebagai kekuatan politik paling merepotkan bagi pemerintah Modi. CJP lahir dari keputusasaan yang berubah menjadi amarah kolektif. Bermula dari unjuk rasa kecil pada Mei lalu, gerakan ini membesar bak riak yang mendadak menjadi badai. Mereka memilih identitas kecoa karena dianggap makhluk yang paling sulit dibasmi. Berbeda dengan gerakan mahasiswa pada umumnya, CJP tidak sekadar berteriak di jalanan; mereka membangun struktur, memilih juru bicara, dan menyusun tuntutan yang tajam: pemecatan menteri pendidikan.
Pemantik sesungguhnya adalah skandal kebocoran ujian yang merenggut kepercayaan generasi muda terhadap sistem. Ujian-ujian besar yang semestinya menjadi jembatan menuju masa depan, berubah menjadi malapetaka. Informasi bocor, hasil dimanipulasi, dan jutaan pelajar merasa dicurangi. Puncaknya, lebih dari belasan siswa nekat mengakhiri hidup mereka. Duka itu mengubah trotoar sunyi Jantar Mantar di Delhi menjadi dapur perlawanan. Para pemimpin aksi menggelar mogok makan berhari-hari; bukan sekadar simbol, melainkan pesawat darurat yang menyedot perhatian publik dan media.
Menteri Pendidikan India Mundur, Sorak Sorai ‘Partai Kecoa’ Pecah di Jantung Delhi

Pemerintah mungkin mengira aksi ini akan meredup seperti demonstrasi-demonstrasi sebelumnya. Namun, ketika ratusan ribu pemuda membanjiri jalan-jalan ibukota pada Senin pekan itu, kalkulasi politik pun jungkir balik. Aparat merespons dengan gas air mata dan pentungan, melukai ratusan peserta aksi damai. Bukannya gentar, represi itu justru menyulut api solidaritas. Sepanjang pekan, ribuan orang terus berdatangan ke titik kumpul CJP di Delhi, sementara gelombang dukungan serupa merebak di Kolkata dan Mumbai. Gerakan ini mendadak menjadi demonstrasi terbesar yang dipimpin anak muda dalam bertahun-tahun.
Selama berminggu-minggu, Modi dan jajarannya bergeming. Hingga akhirnya, tekanan yang kian masif memaksa pintu dialog terbuka. Pemerintah setuju mempercepat proses hukum terkait kebocoran ujian, tetapi dengan cermat menghindari tuntutan inti: pencopotan Pradhan. Akan tetapi, desakan akar rumput sudah tak bisa lagi dijinakkan dengan setengah-setengah. Melihat situasi di lapangan yang kian memanas, Pradhan pun menulis surat pengunduran diri kepada sang perdana menteri. Dalam pernyataannya, ia menyebut langkah itu diambil agar kekuatan anti-nasional tidak memanfaatkan situasi untuk memecah belah. Ia juga mengungkapkan rasa hormat terhadap aspirasi anak muda India.
Dua Wajah Pembuka Piala Presiden, Drama Brunei dan Kemenangan Tipis Persib

Jatuhnya Pradhan bukan semata kisah seorang menteri yang kehilangan jabatan. Ini adalah sinyal bahwa lanskap politik India tengah diguncang aktor baru yang tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Kecoa-kecoa itu telah membuktikan bahwa mereka mampu merayap masuk ke celah-celah kekuasaan dan menggoyang sendi kabinet. Kemenangan CJP belum tentu abadi, tetapi satu hal yang pasti: pemerintahan Modi kini harus berhadapan dengan generasi yang tidak lagi takut bersuara, dan memilih simbol perlawanan dari makhluk yang paling diremehkan namun paling sulit dimatikan.






