Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara terbuka mengungkapkan kesiapan dirinya untuk melakukan perjalanan diplomatik ke Korea Utara. Kesiapan ini disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo saat ia memberikan pidato penting di hadapan para anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Pertemuan tersebut diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta, pada hari Jumat, 31 Juli 2026. Di hadapan para pelaku usaha tersebut, Presiden menceritakan dinamika politik luar negeri Indonesia serta peran strategis yang dapat dimainkan oleh negara ini di panggung internasional, khususnya dalam menjembatani perdamaian di kawasan.
Dalam pidatonya di Istana Negara, Prabowo mengklaim bahwa dirinya pernah diminta oleh Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, untuk mengunjungi Korea Utara. Menurut penjelasan Prabowo, Presiden Lee secara khusus meminta dirinya untuk bertindak sebagai perantara atau mediator dialog dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un. Permintaan ini menunjukkan kepercayaan pihak Korea Selatan terhadap kapasitas diplomatik Indonesia untuk membantu memfasilitasi komunikasi yang sempat tersumbat dengan pihak Korea Utara, demi meredakan ketegangan di kawasan tersebut.
Pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung tersebut telah berlangsung sebelumnya pada tanggal 1 April 2026. Pertemuan penting ini diadakan di Cheong Wa Dae, yang juga dikenal luas dengan sebutan Blue House, Istana Kepresidenan Republik Korea. Di istana kepresidenan yang terletak di Seoul tersebut, kedua pemimpin negara mendiskusikan berbagai isu penting sebelum akhirnya Presiden Lee menyampaikan harapannya agar Presiden Prabowo bersedia melakukan kunjungan ke Korea Utara demi membuka jalur dialog dengan Kim Jong-un.
Pemerintah Kantongi Komitmen Investasi Asing Ratusan Triliun Rupiah untuk Dorong Lapangan Kerja

Prabowo, yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra dan memiliki latar belakang sebagai mantan menteri pertahanan, mendeskripsikan Indonesia dan Korea Selatan sebagai negara kekuatan menengah atau middle power countries. Menurutnya, kedua negara ini memiliki kekhawatiran yang serupa mengenai situasi geopolitik. Ia menegaskan bahwa baik Indonesia maupun Korea Selatan sama-sama berada dalam posisi yang sangat membutuhkan stabilitas dan perdamaian di kawasan agar dapat terus fokus pada pembangunan nasional masing-masing.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menjelaskan bahwa kesiapan Indonesia untuk berperan aktif dalam diplomasi internasional didukung oleh posisi politik luar negeri yang dianut negara ini. Ia berujar bahwa kebijakan nonblok yang secara konsisten dipertahankan oleh Indonesia membuat posisi negara ini dapat diterima di mana-mana oleh berbagai pihak. Kebijakan nonblok ini dipandang sebagai modal diplomatik yang sangat kuat, karena memungkinkan Indonesia untuk berkomunikasi secara fleksibel dan netral dengan negara-negara lain tanpa dicurigai memihak pada salah satu kubu kekuatan global.
Kabinet Prabowo Subianto Diisi Sejumlah Menteri Era Jokowi, Koalisi Sipil Bentuk Kabinet Bayangan

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia senantiasa menghormati semua kekuatan besar yang ada di dunia saat ini. Sikap hormat tersebut ditunjukkan Indonesia kepada berbagai negara berpengaruh, mulai dari Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Jepang, India, hingga Australia. Selain menghormati kekuatan-kekuatan besar tersebut, Prabowo juga menekankan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan negara tetangga dekat. Hal ini dibuktikan dengan hubungan baik yang terus dijaga oleh Indonesia dengan negara tetangganya, Papua Nugini.






