Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis proyeksi cuaca terbaru yang menunjukkan dominasi kondisi kering di beberapa wilayah Indonesia untuk pekan ini. Pengaruh aktif dari Monsun Australia serta intensitas El Nino yang kuat menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan awan dan menurunkan curah hujan secara signifikan. Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, kondisi atmosfer saat ini sangat mendukung cuaca kering, membuat intensitas hujan diperkirakan akan semakin jarang terjadi di sejumlah daerah.
Di wilayah Sulawesi Utara, dampak dari Monsun Australia dan El Nino kuat ini memengaruhi cuaca di 15 kabupaten dan kota sekaligus. Menurut penjelasan dari Koordinator Bidang Operasional BMKG Sam Ratulangi Manado, Karina Husna, cuaca di daerah tersebut diperkirakan akan didominasi oleh kondisi cerah hingga hujan ringan hingga tanggal 16 Agustus 2026. Wilayah-wilayah yang masuk dalam proyeksi ini meliputi Kota Manado, Kota Tomohon, Kota Bitung, dan Kota Kotamobagu. Selain wilayah perkotaan, kabupaten lain seperti Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Tenggara, serta Kabupaten Minahasa Selatan juga diprediksi mengalami kondisi serupa. Wilayah Bolaang Mongondow raya, yang mencakup Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, tidak luput dari prakiraan cuaca ini. Begitu pula dengan wilayah kepulauan di bagian utara, yaitu Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kabupaten Kepulauan Talaud.
Pemprov Jateng Ubah Lahan Tidur Belasan Tahun Jadi Produktif Melalui Program Revola

Selain kondisi kering di daratan, BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Bitung juga mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi yang berlaku hingga 13 Agustus 2026. Angin di wilayah Sulawesi Utara secara umum bertiup dari arah tenggara hingga barat daya dengan kecepatan berkisar antara 10 hingga 25 knot. Tiupan angin kencang ini berpotensi memicu gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di perairan Minahasa Utara, Kepulauan Sitaro, Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, serta kawasan Laut Maluku.
Kondisi serupa yang menandai puncak musim kemarau juga terlihat jelas di bagian barat Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG untuk periode sepekan dari tanggal 11 hingga 17 Agustus 2026, atmosfer di wilayah ini semakin mendukung keadaan kering yang membuat curah hujan menjadi semakin langka. Sebagai gambaran, pada hari Selasa, 11 Agustus 2026, sebagian besar wilayah di Sumatera Selatan diperkirakan akan diselimuti cuaca berawan. Namun, terdapat variasi kondisi di beberapa titik. Kota Palembang diprediksi akan mengalami kondisi cerah berawan, sementara wilayah Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) diprakirakan mengalami cuaca cerah. Di sisi lain, wilayah OKU diperkirakan akan mengalami cuaca berawan pada hari tersebut.
Kemunculan Serentak Dua Kelompok Cicada di Amerika Serikat, Fenomena Langka Sejak 1803

Meskipun sebagian besar wilayah diprediksi kering, BMKG tetap menekankan pentingnya kewaspadaan bagi masyarakat. Cuaca kering bukan berarti potensi bahaya cuaca ekstrem hilang sepenuhnya. Warga diharapkan tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat berlangsung secara tiba-tiba. Fenomena hujan lokal ini juga berpotensi disertai dengan kilat atau petir serta tiupan angin kencang. BMKG juga menyarankan masyarakat memantau akumulasi curah hujan harian guna mengantisipasi perubahan cuaca mendadak di tengah musim kemarau ini.






