Langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertahan di zona merah setelah ditutup melemah 0,69 persen ke posisi 6.365,37 pada perdagangan Senin (10/8). Tekanan terhadap bursa domestik dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp875,51 miliar di pasar reguler. Situasi ini membuat para pelaku pasar perlu lebih cermat dalam memilah instrumen saham yang berpotensi memberikan hasil optimal pada perdagangan hari ini.
Kondisi pasar kemarin mencerminkan pelemahan mayoritas sektor. Dari 11 sektor saham di Bursa Efek Indonesia, sebanyak 10 sektor harus mengakhiri sesi di zona merah. Sektor Non-Cyclicals menjadi salah satu penekan utama setelah merosot 1,37 persen. Meski demikian, sektor transportasi tampil kontras dengan membukukan lonjakan signifikan sebesar 6,21 persen. Sentimen negatif juga menjalar dari bursa global. Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones terkoreksi 0,11 persen ke level 53.975, S&P 500 turun tipis 0,06 persen ke 7.753, dan Nasdaq melorot 0,32 persen ke level 26.605. Penurunan Wall Street berimbas pada indeks ETF EIDO yang merosot 1,24 persen serta MSCI Indonesia yang terkoreksi 1,05 persen.
Selain dinamika pergerakan harga, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rencana kebijakan regulator. Bursa Efek Indonesia berencana menambahkan kolom informasi afiliasi dalam data kepemilikan saham di atas 1 persen. Rencana penguatan transparansi ini berpotensi memengaruhi dinamika transaksi dan peta kekuatan pemegang saham. Di tengah volatilitas pasar tersebut, pertimbangan investasi bergeser pada saham-saham yang ditopang oleh kinerja keuangan solid atau pergerakan sektoral yang defensif.
Kemenkeu Minta Pasar Modal Biayai 91 Persen Investasi RI 2027

Salah satu emiten yang mencatatkan pertumbuhan fundamental kuat adalah Cisarua Mountain Dairy (CMRY). Perseroan berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp1,17 triliun pada semester I-2026, naik 17,88 persen secara tahunan dibanding Rp993,87 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan laba bersih tersebut sejalan dengan lonjakan pendapatan sebesar 25,50 persen secara tahunan menjadi Rp6,46 triliun dari sebelumnya Rp5,14 triliun. Kinerja CMRY didorong oleh pertumbuhan pendapatan segmen Dairy sebesar 54 persen secara tahunan serta segmen Consumer Foods sebesar 10 persen. Kinerja operasional perusahaan juga diperkuat oleh perluasan pasar internasional melalui ekspor produk ke Vietnam yang dimulai pada Mei 2026.
Selain CMRY, emiten lain yang mencatatkan perbaikan kinerja signifikan adalah Ifishdeco (IFSH). Pada semester I-2026, IFSH membukukan laba bersih sebesar Rp46,18 miar, berbalik dari rugi bersih Rp6,17 miliar pada semester I-2025. Perbaikan ini ditopang oleh kenaikan penjualan neto sebesar 88,56 persen secara tahunan menjadi Rp634,29 miliar. Dari sisi segmentasi usaha, mayoritas pendapatan perseroan disumbang oleh sektor pertambangan dan pengolahan nikel sebesar Rp540,16 miliar atau 85,2 persen, sedangkan jasa pertambangan dan segmen lainnya berkontribusi sebesar Rp94,09 miliar atau 14,8 persen.
Restrukturisasi Red Lobster dan Alih Fungsi Bekas Gerainya di Florida

Sementara itu, Triputra Agro Persada (TAPG) juga menarik perhatian pasar setelah menetapkan pembagian dividen tunai interim sebesar Rp60 per saham dengan total mencapai Rp1,19 triliun. Jumlah ini setara dengan rasio pembayaran dividen sebesar 58,33 persen dari laba bersih semester I-2026 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,04 triliun. Pada periode tersebut, TAPG membukukan pendapatan sebesar Rp






