Perkembangan teknologi yang berjalan dengan sangat cepat menuntut perusahaan teknologi informasi (IT) untuk terus meningkatkan kemampuan adaptasi mereka. Salah satu langkah nyata dalam menghadapi perkembangan ini diambil oleh Metrocom, sebuah perusahaan yang bergerak sebagai system integrator. Didirikan pada tahun 1998, Metrocom kini telah mengambil langkah strategis dengan mendirikan sebuah divisi khusus kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Melalui divisi baru ini, perusahaan sedang aktif mengembangkan sejumlah produk berbasis teknologi AI yang nantinya siap untuk dipasarkan secara luas kepada publik.
Tidak hanya fokus pada pengembangan produk eksternal untuk pasar, Metrocom juga mulai menerapkan teknologi AI di dalam lingkungan internal mereka sendiri. Pemanfaatan AI ini diimplementasikan dalam berbagai kegiatan operasional internal perusahaan, seperti pada bidang manajemen sumber daya manusia (HR), bidang keuangan, hingga manajemen proyek (project management). Langkah adaptif ini bukanlah hal baru bagi Metrocom. Sebagaimana disampaikan oleh Direktur Solution Delivery Metrocom, Refendi Panggabean, kemampuan adaptasi ini telah teruji sebelumnya. Contohnya, saat pandemi COVID-19 melanda, Metrocom berhasil mengalihkan fokus bisnis mereka dari bidang infrastruktur ke bidang keamanan (security).
Selain melakukan pengembangan solusi teknologi, persiapan Metrocom dalam menghadapi perkembangan AI juga difokuskan pada penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Untuk mendukung langkah ini, Metrocom memperkuat barisan pekerjanya dengan aktif melakukan perekrutan generasi muda, termasuk di antaranya generasi Z (Gen Z). Menurut pihak manajemen, termasuk Presiden Komisaris Metrocom Indra Pattiasina dan Presiden Direktur Metrocom Bobby Sangka, penguatan SDM merupakan aspek penting dalam menghadapi perubahan teknologi yang dinamis.
OpenAI Meluncurkan Model GPT-5.6-Cyber dan Memperluas Program Keamanan Siber Daybreak

Menilik sejarahnya, Metrocom didirikan pada tahun 1998 oleh Bobby Sangka bersama dengan Indra Pattiasina. Sebelum mendirikan Metrocom, keduanya memiliki latar belakang profesional di perusahaan asing; Bobby Sangka sebelumnya bekerja di Nova Sprint Consulting yang merupakan perusahaan asal Singapura, sedangkan Indra bekerja di IBM. Keputusan untuk membangun usaha sendiri ini dipicu oleh situasi krisis moneter yang melanda Indonesia pada masa itu. Keduanya merasa khawatir bahwa perusahaan tempat mereka bekerja masing-masing akan menghentikan operasionalnya di Indonesia. Kekhawatiran tersebut akhirnya mendorong mereka untuk mendirikan Metrocom, dengan proyek pertama yang diperoleh dari Kejaksaan Agung pada periode tahun 1998 hingga sekitar tahun 2000.
Kini, setelah bertahun-tahun berkembang, Metrocom telah tumbuh dan memiliki beberapa anak perusahaan. Beberapa anak perusahaan tersebut memiliki fokus bisnis yang spesifik, di antaranya ada yang berfokus pada bidang keamanan teknologi informasi (IT security) serta layanan Google Cloud Platform, sementara Metrocom sendiri tetap menjalankan perannya sebagai system integrator. Untuk merayakan perjalanan panjang ini, Metrocom menggelar sebuah acara lari luar ruang pertama mereka yang diberi nama RUNNECTED28. Acara ini diselenggarakan di Sarinah, Jakarta, pada hari Ahad, 9 Agustus 2026.
Perjalanan Misi Boeing Starliner dan Keputusan NASA Memulangkan Kapsul Tanpa Kru

Kegiatan RUNNECTED28 tersebut dipimpin oleh Triska Sangka yang bertindak sebagai ketua panitia acara. Acara lari ini diikuti oleh sekitar 350 karyawan Metrocom yang menempuh rute lari sejauh 2,8 kilometer. Rute yang dilalui dimulai dari Sarinah menuju Bundaran HI, lalu kembali lagi ke titik awal di Sarinah. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi seluruh jajaran perusahaan untuk mempererat hubungan antarkaryawan sekaligus merayakan pencapaian perusahaan.






