Pasar komoditas global saat ini tengah menyaksikan pergerakan yang sangat signifikan, ditandai dengan lonjakan tajam pada harga emas spot dunia. Harga emas spot berhasil menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir, menembus angka di atas 4.400 dolar AS per ons. Kenaikan luar biasa ini didorong oleh aktivitas pembelian yang sangat masif dari otoritas moneter global. Bank-bank sentral di berbagai negara mencatatkan rekor pembelian emas yang fantastis, yakni mencapai 289 ton hanya dalam periode kuartal kedua tahun 2026. Aksi borong berskala besar oleh bank sentral ini memperkuat posisi emas sebagai aset cadangan utama di tengah ketidakpastian pasar global.
Salah satu kontributor utama dalam tren akumulasi emas ini adalah bank sentral China. Lembaga keuangan tertinggi di China tersebut terus memperkuat cadangan emasnya secara konsisten. Pada bulan Juli, bank sentral China meningkatkan cadangan emasnya sebesar sekitar 20 ton. Langkah ekspansif ini dilakukan setelah mereka juga menambah cadangan emas sekitar 15 ton pada bulan Juni sebelumnya. Menariknya, penambahan cadangan emas yang dilakukan oleh bank sentral China pada bulan Juli tersebut tercatat sebagai penambahan bulanan terbesar sejak Oktober 2023, menegaskan komitmen negara tersebut untuk terus mendiversifikasi cadangan devisanya ke dalam bentuk logam mulia.
Kementan Beber Jurus Lindungi Peternak Rakyat dan Jaga Harga Telur

Tidak hanya emas, sentimen positif juga menjalar ke komoditas logam mulia lainnya seperti perak. Perak spot terpantau mengalami reli kuat hingga mendekati level 66 dolar AS per ons. Di pasar regional Asia, tepatnya pada tanggal 11 Agustus, pergerakan harga juga menunjukkan tren penguatan yang serupa. Harga emas di bursa MCX terpantau diperdagangkan 1,22 persen lebih tinggi di level 155.210 rupee per 10 gram. Sementara itu, kontrak berjangka perak MCX juga mengalami apresiasi sebesar 1,05 persen ke posisi 240.340 rupee per kilogram pada sekitar pukul 09.13 pagi waktu setempat. Di pasar fisik, harga emas 24 karat di New Delhi tercatat berada di level 154.660 rupee per 10 gram pada tanggal 11 Agustus tersebut.
Di sisi lain, sektor energi juga menunjukkan dinamika yang tidak kalah menarik. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terpantau diperdagangkan di atas level 82 dolar AS, sedangkan Brent Crude diperdagangkan di dekat level 87,50 dolar AS per ons. Secara umum, harga minyak mentah ditransaksikan di kisaran 88 dolar AS per barel, yang utamanya dipicu oleh ketidakpastian yang terus berlanjut terkait potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan di jalur logistik energi global juga mendapat perhatian setelah Donald Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS (US Navy) telah menyapu bersih ranjau di Selat Hormuz. Donald Trump juga menegaskan bahwa saat ini Angkatan Laut AS memegang kendali penuh atau 100 persen atas jalur perairan strategis tersebut.
ATI Siapkan FGD Penyelarasan Ekosistem Jalan Tol di Jakarta

Secara keseluruhan, perkembangan di pasar komoditas ini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, terutama dinamika politik internasional. Perkembangan geopolitik global, khususnya yang melibatkan situasi antara Rusia dan Ukraina serta ketegangan di Taiwan, diperkirakan akan terus memengaruhi dinamika pasar secara luas. Berbagai peristiwa geopolitik tersebut dinilai memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah pergerakan pasar ke depan, sekaligus memengaruhi jalan yang harus ditempuh emas untuk menuju target harga 15.000 dolar AS.






