Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengerahkan 117 personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) guna mendukung penanganan tanggap darurat pascaerupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur.
Gunung Lewotobi Laki-laki tercatat mengalami beberapa kali aktivitas vulkanik. Pada Selasa, 4 Agustus 2026, gunung ini meletus sebanyak dua kali. Erupsi pertama terjadi pukul 06.13 WITA dengan tinggi kolom abu mencapai 800 meter di atas puncak. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 14,8 mm dan durasi 116 detik. Erupsi kedua menyusul pada pukul 07.34 WITA dengan tinggi kolom abu setinggi 300 meter.
Sebelumnya, aktivitas vulkanik juga terjadi pada Kamis, 6 April pukul 10.34 WITA. Letusan tersebut melontarkan abu vulkanik hingga ketinggian 800 meter di atas puncak dan terekam dengan amplitudo maksimum 11 mm. Selama erupsi pada Kamis, 6 April tersebut, status Gunung Lewotobi Laki-laki berada pada Level III (Siaga). Pihak berwenang mengeluarkan rekomendasi keamanan agar masyarakat maupun pengunjung tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.
Progres dan Tantangan Revitalisasi Stasiun Manggarai Menjadi Stasiun Sentral

Dampak dari aktivitas vulkanik ini sebelumnya sempat menimbulkan korban jiwa. Erupsi yang terjadi pada Minggu, 3 November mengakibatkan kurang lebih 10 orang meninggal dunia dan 63 orang mengalami luka-luka.
Pengiriman Personel BKO dan Peralatan Pendukung
Untuk memperkuat penanganan darurat di Kecamatan Wulanggitang, Polda NTT memberangkatkan 117 personel BKO pada Kamis, 7 November. Rombongan personel ini bertolak menggunakan kapal ASDP melalui dermaga ASDP Bolok di Kabupaten Kupang.
Kuota Sertifikasi Halal Gratis BPJPH Masih Tersisa 60 Persen

Dalam penugasan tersebut, para personel dibekali dengan berbagai fasilitas penunjang seperti mobil dapur lapangan, kendaraan pengolahan air (water treatment), dan mobil watergen untuk menyuplai kebutuhan air bersih. Polda NTT juga menerjunkan personel medis dari bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) untuk memberikan pelayanan medis, serta Tim Psikologi untuk mendampingi para korban yang mengalami trauma akibat bencana tersebut.






