Tadej Pogacar tinggal selangkah lagi mencatatkan namanya bersama para dewa balap sepeda. Kemenangan Richard Carapaz di etape 20 Tour de France yang mendebarkan Sabtu malam tak sedikit pun mengusik takhta pembalap Slovenia itu di puncak klasemen. Dengan keunggulan lebih dari enam menit, etape penutup menuju Paris pada Minggu akan menjadi parade kemenangan kelima Pogacar—menyamai rekor abadi Jacques Anquetil, Eddy Merckx, Bernard Hinault, dan Miguel Indurain.
Namun drama terbesar di tanjakan legendaris Alpe d'Huez bukanlah perebutan jersey kuning, melainkan bagaimana sang calon juara justru memilih berperan sebagai pelayan setia. Alih-alih mengejar kemenangan etape, Pogacar mengawal rekan setimnya yang baru berusia 22 tahun, Isaac del Toro, untuk mengamankan posisi ketiga klasemen umum sekaligus jersey putih pembalap muda terbaik. Keduanya melintasi garis finis berdampingan, merangkul bahu, dalam sebuah adegan yang akan dikenang sebagai simbol estafet generasi.
Rute terberat sepanjang 170,9 kilometer itu sesungguhnya menyimpan kisah pilu bagi Sepp Kuss. Pembalap Amerika Serikat itu sempat melesat sendirian dengan selisih waktu menjanjikan, sebelum malapetaka datang di tikungan tajam dekat kota Alpe d'Huez. Kuss tergelincir, bangkit, lalu kembali terhempas ke jaring pengaman di tepi jurang. “Saya tidak terlalu takut, hanya kesal,” ujarnya sambil menyunggingkan canda bahwa istrinya pasti akan melarangnya balapan lagi. Kecelakaan ganda itu membuka jalan bagi Carapaz untuk merebut kemenangan etape keduanya dalam tiga hari dan memastikan gelar raja tanjakan.
Kobaran Api Kepung Eropa, Seperempat Juta Jiwa Terpaksa Mengungsi

Carapaz dari EF Education-Easypost tampil tenang memanfaatkan situasi. Ia meninggalkan Remco Evenepoel yang finis kedua dan menorehkan kemenangan di salah satu panggung paling ikonik balap sepeda dunia. Sementara itu, Pogacar tetap tak tergoda. “Saya melakukan yang terbaik untuk membantu Isaac,” katanya. “Saya akhirnya merasakan sendiri bagaimana menjadi pembalap pendukung. Sebelumnya saya sudah menghargai rekan setim, kini rasa hormat itu naik ke level yang berbeda.”
Ucapan itu bukan basa-basi. Pogacar mengaku terharu saat melintasi finis bersama Del Toro. Momen tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa ia mulai memikirkan regenerasi, meskipun usianya sendiri baru 27 tahun. “Saya pasti tidak akan melakukan ini terlalu lama. Isaac menunjukkan potensi besar, tapi kami belum memberikan tekanan apa pun padanya,” tambahnya. Dengan demikian, etape 20 bukan sekadar konfirmasi dominasi, melainkan pernyataan bahwa era baru UAE Team Emirates-XRG sedang dirintis.
Usai Final Piala Dunia, Messi dan De Paul Resmi Istirahat dari Panggung All-Star MLS

Di luar pusaran drama, penyelenggara ASO mengumumkan pemangkasan etape terakhir menuju Paris dari semula 133 kilometer menjadi hanya 89 kilometer. Keputusan itu diambil karena sebagian personel darurat dialihkan untuk menangani kebakaran hutan di wilayah barat daya Prancis. Kendati jarak lebih pendek, tradisi tak menuliskan ulang klasemen umum pada etape penutup membuat gelar kelima Pogacar nyaris tak terbantahkan. Ia akan mengukir sejarah, tetapi kali ini dikenang bukan karena kemenangan semata, melainkan karena memberi ruang bagi penerusnya.






