PT PLN (Persero) dan perusahaan energi terbarukan milik negara Uni Emirat Arab, Masdar, terus mematangkan langkah strategis untuk memperluas kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Indonesia. Saat ini, kedua pihak tengah melakukan kajian pra-kelayakan (pre-feasibility assessment) yang mendalam untuk proyek ekspansi PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat. Langkah ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan penting yang ditandatangani oleh PLN dan Masdar pada April 2025 lalu, yang menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 500 megawatt (MW).
Rencana ekspansi ini akan memperbesar kapasitas PLTS Terapung Cirata yang saat ini sudah beroperasi penuh sejak tahun 2023. Fasilitas yang ada sekarang memiliki kapasitas sebesar 145 megawatt dan dibangun di atas area seluas 250 hektare di Waduk Cirata, Jawa Barat. Sejauh ini, PLTS terapung tersebut telah berhasil menyediakan pasokan energi bersih untuk sekitar 50.000 rumah tangga serta berkontribusi langsung dalam mengurangi emisi karbon hingga mencapai 214.000 ton per tahun. Upaya perluasan kapasitas ini juga didukung oleh kebijakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) yang telah menaikkan batas cakupan area perairan untuk PLTS terapung dari sebelumnya hanya 5 persen menjadi 20 persen.
Kemitraan strategis antara PLN dan Masdar sendiri sebenarnya sudah terjalin sejak tahun 2017. Selain fokus pada perluasan di Waduk Cirata, Masdar juga tengah bersiap untuk mengembangkan PLTS Terapung Jatigede yang berlokasi di Sumedang, Jawa Barat. Menurut Fatima Al Suwaidi, selaku Head of Business Development Asia-Pacific untuk Masdar, proyek PLTS Terapung Jatigede ini berhasil diperoleh Masdar melalui program tender yang diselenggarakan oleh PLN Indonesia Power. Langkah ekspansi ini mempertegas komitmen kedua belah pihak dalam mendukung transisi energi bersih di tanah air.
Simalungun Diguncang Gempa, Pasokan BBM dan LPG Dijamin Aman

Pengembangan energi surya secara masif ini sejalan dengan target yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Berdasarkan RUPTL tersebut, Indonesia menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik baru sebesar 69,5 gigawatt (GW). Dari target kapasitas baru tersebut, sekitar 76 persen direncanakan berasal dari energi terbarukan, yang di dalamnya mencakup penambahan sebesar 17,1 gigawatt dari energi surya.
Dalam skala nasional, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga mencapai total 100 gigawatt di Indonesia. Sebagai tahap awal, pemerintah memprioritaskan target pembangunan sebesar 13 gigawatt terlebih dahulu. CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa Danantara saat ini telah memiliki satu prototipe pembangunan PLTS berkapasitas 1 megawatt di daerah Sumenep. Prototipe ini nantinya akan ditinjau secara khusus oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) agar dapat direplikasi dan diperbanyak di berbagai wilayah lain.
PLN Pulihkan Kelistrikan Pascagempa Flores, 429 Gardu Sudah Kembali Nyala

Untuk menopang ambisi besar ini, kesiapan infrastruktur dalam negeri terus digenjot. Saat ini, investasi asing senilai US$ 1,4 miliar telah masuk ke Indonesia untuk membangun pabrik yang mampu memproduksi panel surya dengan kapasitas mencapai 50 gigawatt. Proses pembangunan pabrik panel surya bernilai fantastis ini dijadwalkan akan selesai pada akhir tahun ini, sehingga diharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan komponen lokal untuk berbagai proyek PLTS di tanah air.






