Pilar Tesla dan SpaceX Retak, Investor Mulai Berpaling

Agus CahyonoPublished 26 Jul 2026 - 08.05 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Pilar Tesla dan SpaceX Retak, Investor Mulai Berpaling
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Gedung pencakar langit yang dibangun di atas janji ambisius itu kini mulai berderak. Kamis lalu menjadi pukulan ganda bagi kerajaan bisnis Elon Musk. Saham Tesla terkapar dengan koreksi 15 persen, menghapus kapitalisasi pasar lebih dari US$215 miliar dalam sekejap. Bukan hanya pendapatan yang meleset dari ekspektasi, tetapi perusahaan mobil listrik itu juga membukukan arus kas negatif untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Di saat yang sama, saham SpaceX—yang baru saja melantai dengan kejayaan—terus merosot hingga hampir 50 persen dari puncak. Bintang yang sempat menyilaukan sebagai triliuner pertama dunia itu kini menyaksikan fondasi bisnisnya digoyang keraguan.

Tak hanya sekadar angka, kemunduran Tesla menguak persoalan fundamental. Belanja besar-besaran untuk kecerdasan buatan di seluruh sektor teknologi menciptakan kekhawatiran tersendiri, tetapi Musk justru mengendurkan target-target proyek yang selama ini dijual sebagai mesin pertumbuhan masa depan. Layanan taksi otonom Robotaxi, robot humanoid Optimus, hingga truk listrik Semi yang digadang-gadang siap mengubah wajah logistik, semuanya melorot. Dari panggung presentasi yang penuh optimisme, kini kenyataan berbicara: rencana tinggal rencana, sementara insinyur kesulitan merangkai kepingan ambisi yang terlalu tinggi.

Also Read

Momok Downtime Hantui Pabrik Modern, Arsitektur Hybrid Cloud Disiapkan sebagai Penangkal

Di sisi lain, pendaratan SpaceX di bursa justru melahirkan tekanan yang tak pernah dirasakan saat masih menjadi perusahaan privat. Harga IPO US$135 sempat melesat di atas US$225 sebelum akhirnya terpuruk hingga menyentuh di bawah harga penawaran. Lebih dari US$1 triliun nilai pasar amblas. Mantan eksekutif industri satelit Samer Halawi menekankan bahwa akses ke modal publik kini diawasi tanpa ampun. "Investor mengharapkan imbal hasil," ujarnya, mengingatkan bahwa gaya operasi lama tak bisa lagi dipertahankan. Penundaan uji coba roket Starship memperparah derita, apalagi dibarengi bayang-bayang berakhirnya masa penguncian saham pada awal Agustus yang akan membanjiri pasar dengan hampir 911,5 juta lembar saham baru.

Kesabaran para pendukung mulai menipis, meski kapitalisasi pasar Tesla dan SpaceX masih tercatat fantastis di angka US$1,26 triliun dan US$1,57 triliun. Influencer Tesla Dillon Loomis melontarkan kritik pedas: jika target masih serba tidak pasti, lebih baik tidak diumbar ke publik. Kegagalan mendekati janji hanya merusak kepercayaan. Buktinya, Robotaxi hingga Juli baru menyentuh tujuh kota, padahal awal tahun Musk menyebut layanan itu akan mencaplok seperempat hingga separuh Amerika Serikat sebelum akhir 2026. Demonstrasi Optimus generasi ketiga yang dijanjikan pada kuartal pertama pun lenyap tanpa jejak. Sementara itu, pernyataan produksi massal Semi hanya bergulir pada kata "segera" tanpa kejelasan.

Also Read

Indonesia Pelanggan Pertama di Asia untuk Jet Tempur Ringan M-346F Block 20

Di tengah pusaran tekanan, nasib kedua perusahaan seolah bergantung pada satu nama: Starship. Uji coba yang tertunda akibat kerusakan mesin pendorong bukan hanya soal teknis, melainkan pertaruhan besar mengubah program ini dari laboratorium menjadi sumber pendapatan nyata, terutama untuk meluncurkan satelit Starlink generasi baru. Kegelisahan bertambah karena masa lock-up akan bertepatan dengan laporan keuangan perdana SpaceX sebagai perusahaan publik. Belum reda di sana, spekulasi merger antara Tesla dan SpaceX kembali mencuat. Musk mengakui ada sinergi erat dalam pengembangan chip AI di Texas, namun menegaskan bahwa diskusi sepenting itu tak bisa dijawab dalam sesi tanya jawab singkat. Kerajaan yang dulu terlihat antipeluru kini menyisakan satu pertanyaan: seberapa lama lagi kemilau seorang visioner bisa mengompensasi realita yang tak sejalan?

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca