Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Bencana ini menimbulkan dampak serius di wilayah sekitarnya, khususnya di Kabupaten Nagekeo. Hingga Sabtu pukul 15.00 WIB, guncangan hebat tersebut dilaporkan telah menewaskan sebanyak 38 orang. Selain menimbulkan korban jiwa, gempa ini juga memicu kekhawatiran warga di mana sekitar 2.000 penduduk memilih untuk mengungsi secara mandiri demi keselamatan mereka.
Untuk mempercepat pemulihan dan penanganan para korban, pemerintah mengambil langkah cepat dengan mengalihkan bantuan logistik. Pemerintah memutuskan untuk menggeser sebagian persediaan logistik cadangan yang sebelumnya disiapkan untuk penanganan dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Langkah ini diambil guna memenuhi kebutuhan mendesak para korban gempa bumi di Flores yang saat ini sangat membutuhkan bantuan pangan dan kebutuhan dasar lainnya.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memperpanjang status tanggap darurat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur hingga tanggal 30 Juni 2026. Keputusan tersebut diambil menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi secara fluktuatif. Sebagai informasi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sempat menaikkan status aktivitas gunung tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Selasa, 12 Mei 2026, setelah mencatat adanya peningkatan gempa vulkanik dalam yang mencapai 21 hingga 32 kejadian per hari selama periode 1-11 Mei 2026. Pihak berwenang juga merekomendasikan masyarakat untuk menghindari aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Gunung Lewotobi Laki-laki sendiri tercatat pernah meletus pada Selasa, 8 Juli 2025, pukul 16.08 WITA, dan aktivitasnya kembali meningkat pada Jumat, 16 Agustus 2025.
Kantor Didemo Buntut Challenge Miras, Manajemen OT Minta Maaf

Selain pengalihan logistik cadangan tersebut, dukungan bagi warga terdampak juga datang dari berbagai pihak. Menteri Imigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat, Agus Adrianto, turut mengirimkan bantuan langsung untuk meringankan beban masyarakat. Bantuan yang disalurkan tersebut mencakup 25 ton beras serta 200 dus susu formula untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan anak-anak di lokasi pengungsian.
Di lapangan, upaya penanganan dampak gempa terus dimaksimalkan oleh berbagai instansi. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah mengerahkan sejumlah alat berat ke lokasi bencana. Alat berat ini difungsikan untuk membersihkan material longsor yang menutup beberapa ruas jalan penting agar akses transportasi dan distribusi bantuan dapat segera pulih. Sementara itu, BNPB juga menyiapkan perangkat komunikasi cadangan, termasuk layanan Starlink, guna memastikan koordinasi penanganan bencana di lapangan tetap berjalan lancar tanpa hambatan komunikasi.
5 Bandara di NTT Rusak Akibat Gempa 7,0 Magnitudo, Terminal-Runway Retak

Di sisi lain, sektor transportasi di wilayah NTT juga mengalami penyesuaian akibat situasi darurat. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) melakukan penyesuaian rute kapal penumpang miliknya. Langkah penyesuaian ini diambil menyusul adanya penutupan Bandara Internasional Komodo di Labuan Bajo yang diberlakukan sejak Sabtu siang. Penyesuaian rute ini diharapkan dapat membantu mobilitas masyarakat yang terdampak oleh penutupan jalur udara tersebut.
Kabupaten Flores Timur sendiri dalam beberapa waktu terakhir menghadapi sejumlah tantangan sosial dan kebencanaan. Selain ancaman aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki, wilayah ini sempat diwarnai konflik sosial. Di antaranya adalah bentrokan antarwarga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak di Adonara, Flores Timur, yang mengakibatkan dua orang tewas serta sejumlah rumah hangus terbakar. Selain itu, konflik berdarah terkait sengketa tanah juga sempat pecah antara warga Desa Bugalima dan Desa Ile Pati pada Senin, 21 Oktober.






