Selama ini, panggung politik sering kali dicitrakan sebagai arena yang kaku, keras, dan didominasi oleh kaum pria. Pandangan skeptis ini kerap membuat sebagian besar perempuan merasa berjarak dengan dunia pembuatan kebijakan. Namun, sebuah gerakan penyadaran kini tengah didorong oleh Perempuan Demokrat Republik Indonesia (PDRI). Sayap organisasi Partai Demokrat ini berupaya meruntuhkan tembok pembatas tersebut dengan menegaskan bahwa urusan politik sesungguhnya sangat dekat dengan keseharian perempuan, mulai dari urusan domestik hingga masa depan anak-anak.
Kepala Bidang Komunikasi PDRI, Metty Yan Harahap, mengajak seluruh elemen perempuan Indonesia lintas generasi untuk mengubah cara pandang mereka terhadap politik. Menurutnya, politik tidak boleh lagi dianggap sebagai hal yang tabu atau asing. Sebaliknya, setiap kebijakan yang lahir dari proses politik akan berdampak langsung pada kualitas hidup keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan aktif perempuan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan untuk memastikan arah pembangunan bangsa berjalan ke arah yang lebih adil.
PDRI memandang bahwa ruang politik harus menjadi tempat pengabdian yang inklusif. Ketika perempuan memilih untuk bersikap apatis, suara-suara yang memperjuangkan isu-isu krusial seperti akses pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang layak, perlindungan anak, serta pemberdayaan ekonomi keluarga berisiko terabaikan. Dengan mengambil peran dalam pengambilan keputusan, perempuan dapat memastikan bahwa kebijakan yang dirumuskan benar-benar sensitif terhadap kebutuhan riil di tingkat akar rumput.
Mengenal Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 dari Kemendagri

Dalam upaya mewujudkan visi tersebut, PDRI memosisikan diri sebagai wadah kolaboratif yang mendukung proses belajar dan pemberdayaan perempuan. Melalui organisasi ini, para perempuan didorong untuk saling menguatkan agar mampu tampil percaya diri di ruang publik. Sinergi ini dipercaya akan melahirkan fondasi keluarga yang lebih kokoh, yang pada akhirnya akan mengakselerasi kemajuan masyarakat secara keseluruhan menuju tatanan bernegara yang lebih berkeadilan sosial.
Sejalan dengan visi tersebut, Ketua Umum PDRI, Vitri C. Mallarangeng, menegaskan komitmen organisasi untuk menghadirkan program kerja nyata yang berdampak langsung pada masyarakat. Langkah taktis ini dijalankan melalui lima pilar utama yang menjadi kompas pergerakan organisasi. Fokusnya tidak hanya pada wacana politik praktis, melainkan pada peningkatan kapasitas diri perempuan di berbagai sektor kehidupan agar mereka siap menjadi agen perubahan yang solutif.
Bantah Curi Start Pemilu 2029, Ahmad Ali Sebut PSI Mulai Lebih Awal

Di antara pilar-pilar tersebut, terdapat program PDRI Cerdas yang berfokus pada peningkatan kapasitas intelektual melalui seminar hukum, edukasi pengasuhan anak, hingga literasi digital. Selain itu, ada pula pilar PDRI Sehat yang menyasar kesejahteraan fisik perempuan melalui penyediaan layanan pemeriksaan kesehatan tanpa biaya, edukasi mengenai pemenuhan gizi, serta kampanye kesadaran kesehatan reproduksi. Melalui integrasi program-program ini, PDRI berharap dapat mencetak generasi perempuan yang tidak hanya melek politik, tetapi juga mandiri dan berdaya.






