Bali dikenal luas sebagai salah satu tujuan wisata paling populer di Indonesia. Selain keindahan alamnya, Pulau Dewata ini juga menyimpan kekayaan tradisi yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Salah satu aspek budaya penting yang masih dipertahankan hingga saat ini adalah sistem penanggalan tradisional. Kalender Bali memiliki perbedaan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kalender umum yang biasa digunakan sehari-hari.
Bagi masyarakat Hindu di Bali, kalender tradisional ini bukan sekadar alat penunjuk tanggal atau waktu. Sistem kalender Bali berfungsi sebagai panduan spiritual masyarakat Bali dalam menentukan hari baik untuk segala aktivitas mereka. Panduan spiritual ini digunakan untuk menetapkan waktu pelaksanaan upacara keagamaan atau merayakan hari besar adat, menentukan hari pernikahan yang baik, hingga memilih hari yang tepat untuk mulai membangun rumah baru. Penyelarasan aktivitas dengan hari baik ini dipercaya membawa keharmonisan dalam kehidupan mereka.
Salah satu elemen penting yang terdapat dalam sistem penanggalan tradisional Bali dan Jawa adalah konsep wuku. Wuku merupakan bagian dari siklus dalam penanggalan Jawa dan Bali yang berjumlah 7 hari atau satu pekan. Secara keseluruhan, siklus wuku terdiri dari 30 pekan atau 210 hari. Setiap pekan dalam siklus tersebut mempunyai nama yang berbeda untuk setiap wuku. Di kawasan Bali dan Jawa, penghitungan wuku, atau yang dalam bahasa Jawa disebut pawukon, masih dipakai secara aktif oleh masyarakat untuk menetapkan hari baik dan buruk dalam melakukan berbagai kegiatan.
Bupati Kediri Lantik 121 Pejabat Baru untuk Isi Jabatan Kosong

Selain perhitungan wuku, sistem penanggalan ini juga berkaitan erat dengan konsep hari lahir tradisional. Dalam bahasa Bali, istilah weton dikenal dengan sebutan oton atau otonan. Hubungan antara siklus wuku dan otonan ini tercermin dalam penentuan usia seseorang secara tradisional. Seorang bayi dengan umur 1 wuku atau 210 hari disebut telah mencapai usia 1 oton. Peringatan otonan ini menjadi salah satu ritual penting bagi keluarga Hindu di Bali dalam mensyukuri kelahiran dan tumbuh kembang anak.
Memasuki bulan Agustus 2026, terdapat beberapa hari raya keagamaan atau rerainan penting yang akan diperingati oleh umat Hindu di Bali. Berdasarkan rincian informasi yang dilansir dari laman Kalender Bali Digital, rangkaian hari raya tersebut dimulai sejak awal bulan. Pada tanggal 1 Agustus 2026, masyarakat Bali akan memperingati rerainan Tumpek Krulut. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 5 Agustus 2026, umat Hindu akan melaksanakan rerainan Buda Wage Merakih.
KPK Sita Bukti Pengondisian Penerimaan Mahasiswa Baru di Unsoed

Rangkaian hari penting di bulan Agustus 2026 ini terus berlanjut dengan peringatan Hari Bhatara Sri yang jatuh pada tanggal 7 Agustus 2026. Selanjutnya, menjelang akhir bulan, umat Hindu di Bali juga akan merayakan hari suci Purnama yang jatuh pada tanggal 27 Agustus 2026. Dengan merujuk pada data dari Kalender Bali Digital tersebut, masyarakat dapat mempersiapkan segala keperluan upacara adat dan keagamaan jauh-jauh hari. Penyelarasan aktivitas sehari-hari dengan kalender tradisional ini menjadi bukti nyata bagaimana spiritualitas dan budaya tetap lestari di tengah derasnya arus modernisasi di Bali.






