Kabar duka itu datang tanpa aba-aba, menyusup di tengah gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara. Troy Harold Yohanes Pantouw, sosok yang sehari-hari merangkai kata dan menjaga detak komunikasi publik proyek paling ambisius negeri ini, mengembuskan napas terakhir pada Sabtu, 25 Juli 2026. Di usia 58 tahun, juru bicara Badan Otorita IKN itu pergi, meninggalkan sunyi yang seketika menyelimuti satu lorong penting dalam sejarah pemindahan ibu kota.
Pria kelahiran 8 Mei 1968 ini bukan sekadar pejabat yang membaca naskah di depan kamera. Ia adalah produk rahim jurnalisme yang tangguh—bermula dari gelombang radio pada 1987, lalu merambah layar kaca sebagai produser di televisi swasta pada 1990. Mikrofon dan lensa adalah sahabat lamanya, jauh sebelum ia duduk di kursi empuk komunikator korporasi. Jejak itu mengajarkan bahwa kata-kata tak hanya membangun citra, melainkan juga menjahit kepercayaan.
Perjalanan panjangnya lantas menyeberang ke dunia pelatihan dan kehumasan. Ia pernah menjadi instruktur di John Robert Power International pada 1994, membentuk generasi baru yang percaya diri berbicara di depan publik. Kemudian mengelola promosi dan komunikasi di CBN (1998), menangani nadi informasi di PT Air Mancur (1999), hingga menjadi Kepala Humas Nasional Riau Pulp—PT RAPP—pada 2005 hingga 2008. Puncak karier korporatnya terukir saat menjabat Direktur Komunikasi PT Tirta Investama Danone-Aqua pada 2009, tempat ia mengasah kepekaan menyampaikan pesan-pesan kompleks ke telinga jutaan orang.
Troy Pantouw, Pionir IKN yang Wafat di Kamar Rusun Perintis

Otorita IKN memanggilnya pada Januari 2024 untuk mengisi posisi Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik. Di sanalah Troy menemukan kembali ritme lama: menerjemahkan visi besar menjadi cerita yang bisa diterima akal dan rasa. Tugas itu bukan perkara mudah. Setiap narasi yang ia bangun adalah jembatan antara rancangan teknokratis dan harapan rakyat yang kerap skeptis. Kini, ketika jembatan itu masih berdiri, pejalan utamanya telah berpamitan.
Unggahan resmi Otorita IKN di media sosial menjadi saksi bisu kehilangan itu. “Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, penghiburan, dan kekuatan,” demikian petikan pernyataan tersebut. Ungkapan singkat itu menyiratkan lebih dari sekadar protokol kedukaan: sebuah pengakuan bahwa suara penting telah sirna, dan ruang komunikasi yang dulu ia hidupkan akan terasa berbeda.
Usai 17 OTT, Kemendagri dan KPK Keliling 10 Klaster Daerah

Kepergian Troy Pantouw bukan hanya kematian seorang juru bicara. Ia adalah perginya seorang perangkai narasi yang memahami bahwa pembangunan ibu kota baru bukan sekadar beton dan baja, melainkan juga tentang bagaimana kisahnya diceritakan. Di tengah proses yang masih bergulir, warisan baginya mungkin sederhana: setiap kata yang ia pilih dulu akan terus bergema, meski orangnya telah tiada. Panggung IKN akan tetap sibuk dengan dialog dan suara-suara baru, namun jeda hening siang itu akan dikenang sebagai saat seorang penutur andal meletakkan mikrofonnya untuk selamanya.






