Jejaring media sosial belakangan ini diramaikan oleh gelombang nostalgia para pendaki gunung yang membagikan potret lawas puncak Gunung Merapi. Foto-foto yang diambil sebelum tahun 2006 tersebut memperlihatkan pemandangan yang kini mustahil untuk disaksikan kembali. Bagi generasi pendaki masa lalu, puncak salah satu gunung paling aktif di Indonesia ini menyimpan memori tentang lanskap yang ramah, jauh berbeda dengan kondisinya saat ini yang terus bergolak.
Dalam dokumentasi lawas yang beredar, tampak kawah mati Gunung Merapi yang luas dan relatif aman untuk dijelajahi. Pada masa itu, para pendaki bahkan bisa turun ke dasar kawah, menyusun batu-batu hingga membentuk tulisan, atau sekadar bermain sepak bola di sana. Puncak Garuda yang legendaris dan menjulang gagah juga menjadi latar belakang favorit untuk berfoto, sebuah ikon kegagahan Merapi yang kini tinggal sejarah setelah runtuh akibat rentetan aktivitas vulkanik hebat.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, membenarkan bahwa foto-foto yang viral tersebut merupakan wajah asli puncak Merapi di masa lampau. Ia menjelaskan bahwa sebelum tahun 2006, karakter puncak Merapi memang cenderung runcing dengan keberadaan Puncak Garuda yang ikonik. Namun, perubahan drastis mulai terjadi pasca-erupsi tahun 2006 dan puncaknya pada letusan dahsyat tahun 2010 yang meruntuhkan Puncak Garuda serta membentuk kawah baru yang aktif hingga sekarang.
Bakti Komdigi Optimalkan Satelit Satria-1 Jaga Internet di Sangihe, Talaud, dan Sitaro

Wajah ramah Merapi kini telah sepenuhnya berubah menjadi zona bahaya yang sangat dinamis. BPPTKG menegaskan bahwa saat ini Gunung Merapi berada pada status Level III atau Siaga, yang berarti aktivitas pendakian hingga ke puncak sangat dilarang. Kawasan puncak kini dikategorikan sebagai zona merah karena potensi letusan eksplosif yang dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan dini, membahayakan siapa saja yang nekat mendekat.
Ancaman bahaya saat ini mengintai beberapa sektor utama di sekeliling lereng Merapi. Untuk sektor selatan hingga barat daya, luncuran lava pijar dan awan panas guguran berpotensi mengalir ke Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga jarak 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, aliran material vulkanik mengancam wilayah Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material padat bahkan bisa menjangkau radius 3 kilometer dari pusat kawah.
Indosat, Ooredoo, Nokia, dan NVIDIA Berkolaborasi Luncurkan Zankore untuk Bangun Infrastruktur AI

Nostalgia foto-foto lawas ini menjadi pengingat kuat akan kekuatan alam yang terus mengubah bentang bumi. Merapi yang dahulu sempat menjadi tempat bermain di ketinggian bagi para pencinta alam kini telah kembali ke jati dirinya sebagai laboratorium geologi yang aktif dan berbahaya. Lembaran foto kusam tersebut kini hanya menjadi saksi bisu bahwa keindahan puncak Merapi yang dulu pernah diinjak manusia kini telah terkubur di bawah tumpukan material vulkanik baru.






