Mimbar yang Tak Jadi Berbunyi, Perjalanan Terakhir Troy Pantouw Sang Penjaga Suara IKN

Agus CahyonoPublished 26 Jul 2026 - 02.52 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Mimbar yang Tak Jadi Berbunyi, Perjalanan Terakhir Troy Pantouw Sang Penjaga Suara IKN
Foto/Ilustrasi: mediaindonesia.com.
A-A+

Jadwal ibadah Minggu pagi di Gereja Bethany Nusantara, Balikpapan, mendadak berubah tanpa pemberitahuan. Mimbar yang disiapkan untuk dua sesi khotbah pada 26 Juli 2026 itu tetap bersih, namun kosong. Troy Harrold Yohanes Pantouw, penatua yang sedianya membawakan firman, tidak pernah tiba. Sehari sebelumnya, langkah pria 58 tahun itu berhenti di Rumah Sakit Hermina IKN, menutup seluruh janji kehadiran dengan keheningan abadi.

Di mata publik, nama Troy melekat sebagai Juru Bicara sekaligus Staf Khusus Komunikasi Publik Otorita Ibu Kota Nusantara. Dialah wajah yang rajin menerjemahkan cetak biru megaproyek negara ke dalam bahasa yang bisa dicerna awam. Di tengah gempuran tanya dan sorotan, suaranya menjadi jembatan antara pilar-pilar birokrasi dan rakyat yang menanti wujud ibu kota baru.

Namun, riwayat pengabdian lelaki kelahiran Surabaya pada 8 Mei 1968 ini tak melulu ditulis dengan tinta laporan kinerja dan rekam jejak korporasi. Ada halaman lain yang jarang tersingkap: kesetiaannya menata hati di hadapan Tuhan. Di tempat-tempat yang jauh dari kilau kamera, yakni Rusun IKN dan Hunian Pekerja Konstruksi, Troy rutin memimpin ibadah Minggu. Ia hadir bukan dengan otoritas seorang pejabat, melainkan sebagai sesama peziarah yang membagikan penguatan. “Saya melibatkan Tuhan dalam setiap pekerjaan. Itulah alasan mengapa saya selalu mendapat pekerjaan yang baik, terutama di IKN,” tuturnya suatu kali, kalimat yang kini menjadi semacam wasiat lisan tentang sumber daya juangnya.

Also Read

Di Balik Pintu Kamar 102, Juru Bicara IKN Tutup Usia

Pria yang menggenggam ijazah Psikologi dari Untag Surabaya dan gelar Master dari University of Central England itu memulai karier dari gelombang radio sebagai penyiar pada 1988. Berlanjut menjadi Produser Eksekutif SCTV pada awal 1990-an, ia kemudian menapaki lorong-lorong komunikasi strategis di Danone AQUA dan Standard Chartered Bank. Puncak kepercayaan negara datang ketika ia memimpin komunikasi publik Satgas Covid-19 pada 2020–2022, sebelum akhirnya berseragam IKN sejak 2023. Seluruh pencapaian itu disimpannya dalam bingkai kerendahan hati, seakan puluhan tahun pengalaman hanyalah alat untuk satu panggilan: melayani.

Minggu yang direncanakan menjadi panggung pelayanannya berubah menjadi waktu kepulangan. Troy tidak sempat menuntaskan naskah khotbah yang sudah ia siapkan, tetapi hidupnya sendiri sudah menjadi khotbah yang utuh. Ia mewariskan teladan bahwa batas antara pengabdian kepada negara dan ketundukan pada Sang Pencipta bisa begitu tipis, nyaris tak kasat mata. Kini, suara yang biasa mengisi ruang-ruang kehumasan dan ruang doa itu lenyap, tetapi getarannya tertinggal di antara tiang pancang Nusantara dan hati para pekerja yang pernah mendengarnya.

Also Read

Troy Pantouw, Juru Bicara Ibu Kota Baru, Hembuskan Napas Terakhir di Kamar Rusun

Tanpa kehadiran Troy, mimbar di Balikpapan tetap akan melayani jemaat dengan cara lain. Namun, ketiadaannya menandai akhir sebuah dwi tunggal pengabdian: seorang komunikator ulung yang menemukan kekuatan justru ketika ia menundukkan kepala di hadapan ilahi. Kabar duka yang menyebar melalui unggahan akun Humas Otorita IKN pada Sabtu sore itu tidak hanya meratapi perginya seorang jubir negara. Ia juga menjadi penanda bahwa Nusantara baru saja kehilangan satu suara rendah hati yang mengajarkan, kerja apa pun—bahkan yang paling birokratis sekalipun—bisa menjadi jalan menemui Yang Maha Esa.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca