Pasar saham Korea Selatan sedang mengalami guncangan hebat akibat kerugian besar yang menimpa para investor ritel. Situasi ini memaksa otoritas keuangan negara tersebut mengambil tindakan luar biasa. Pada hari Rabu, 29 Juli 2026, Menteri Keuangan Korea Selatan secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Langkah ini dipicu oleh gelombang spekulasi dan kerugian masif yang disebabkan oleh produk investasi baru yang dikenal sebagai single-stock Leveraged Exchange Traded Fund (ETF leverage saham tunggal).
Produk finansial ini baru saja diperkenalkan ke pasar pada tanggal 27 Mei lalu. Menurut laporan dari Reuters, Menteri Keuangan meminta maaf karena instrumen investasi berisiko tinggi tersebut diluncurkan tanpa adanya pertimbangan dan persiapan yang matang dari regulator. Kurangnya analisis mendalam sebelum perilisan produk dinilai menjadi penyebab utama terjadinya kekacauan di pasar saham.
Secara definisi, ETF leverage saham tunggal merupakan produk investasi yang memanfaatkan utang atau dana pinjaman untuk melipatgandakan pergerakan harga dari satu saham tertentu. Dengan mekanisme ini, potensi keuntungan investor memang bisa meningkat tajam saat harga saham acuan naik. Namun, jika harga saham acuan tersebut turun, kerugian yang diderita investor juga akan berlipat ganda dengan sangat cepat.
AS Batalkan Latihan Militer Gabungan Ssangyong dengan Korea Selatan

Sejak pertama kali diluncurkan, produk ini langsung menarik minat yang luar biasa dari para investor ritel di Korea Selatan. Mereka memanfaatkan instrumen ini untuk memburu saham-saham di sektor teknologi, khususnya industri semikonduktor yang sedang populer akibat tren kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan data dari KB Financial Group, investor ritel di negara tersebut mencatatkan pembelian bersih hingga mencapai sekitar 14 triliun won atau setara dengan Rp 168 triliun untuk produk ETF leverage tersebut. Angka ini jauh melampaui nilai pembelian oleh investor asing yang hanya mencatatkan transaksi sekitar 2 triliun won.
Petaka bagi para investor mulai terjadi ketika pasar saham Korea Selatan mengalami koreksi yang sangat tajam. Penurunan ini terutama dipicu oleh anjloknya harga saham-saham produsen cip yang sebelumnya sempat melonjak tinggi karena euforia teknologi AI. Investor yang menempatkan dana mereka pada produk ETF leverage yang terikat dengan dua raksasa semikonduktor, yaitu Samsung Electronics dan SK Hynix, menjadi pihak yang menderita kerugian paling parah.
Data pasar menunjukkan bahwa produk ETF leverage Samsung Electronics mengalami kejatuhan nilai hingga hampir 75 persen dari level tertingginya yang sempat dicapai pada 3 Juni. Sementara itu, produk KODEX SK Hynix, yang dirancang khusus untuk memberikan pergerakan dua kali lipat dari harga saham SK Hynix, tercatat merosot lebih dari 80 persen dari titik puncaknya pada 23 Juni menurut data LSEG. Kepanikan investor terhadap prospek saham sektor cip ini pada akhirnya menyeret indeks utama Korea Selatan, Kospi, yang anjlok hampir 35 persen dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Aliran Modal Asing Kembali Masuk ke SBN dan Saham Indonesia

Menanggapi situasi kritis ini, Komisi Jasa Keuangan Korea Selatan (FSC) kini tengah mengkaji opsi untuk memperketat regulasi. Salah satu langkah yang sedang dipertimbangkan adalah membatasi akses pembelian produk ETF leverage ini agar hanya dapat diakses oleh investor profesional.
Komisioner FSC, Lee Eog-weon, menjelaskan bahwa pihak regulator memiliki wewenang untuk menaikkan persyaratan investasi demi melindungi investor ritel dari risiko yang tidak terukur. Selain membatasi akses pembeli, regulator juga sedang mempertimbangkan untuk menurunkan tingkat leverage dari yang semula dua kali lipat menjadi rasio yang lebih rendah guna meredam volatilitas pasar yang ekstrem. Lee Eog-weon menambahkan, sebagaimana dilaporkan oleh CNBC International, bahwa kepentingan para investor akan tetap dipertimbangkan dalam proses perumusan aturan baru ini, termasuk melalui pertemuan dengan para pemilik manfaat.






