apriniageosat.co.id
BerandaNasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialEkonomiOlahragaHiburanPolitikPendidikanKriminalLingkunganTeknologiOtomotifInternasionalGeneral NewsEconomyNewsSportsPopuler
Beranda/Politik

Mengapa Bupati Kuansing Nonaktif Diduga Memotong TPP Pegawai hingga Setengahnya?

Uria Anyi ApuiDiterbitkan 5 Agu 2026 - 23.20 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Mengapa Bupati Kuansing Nonaktif Diduga Memotong TPP Pegawai hingga Setengahnya?
Foto/Ilustrasi: tirto.id.
A-A+

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengungkap babak baru dalam kasus dugaan korupsi yang menjerat Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) nonaktif, Suhardiman Amby. Dalam perkembangan penyelidikan terbaru, lembaga antirasuah tersebut mendeteksi adanya pemotongan terhadap Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuansing. Pemotongan hak keuangan para abdi negara ini tidak main-main, karena diduga mencapai angka hingga 50 persen dari jumlah yang seharusnya mereka terima. Informasi ini diungkapkan langsung oleh Plt Direktur Penyidikan KPK, Ahmad Taufik Husein, saat memberikan keterangan pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, pada Selasa, 4 Agustus 2026.

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalKesehatanHukumMegapolitanSosialEkonomiOlahragaHiburanPolitikPendidikanKriminalLingkunganTeknologiOtomotifInternasionalGeneral NewsEconomyNewsSports

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan

Penyelidikan atas pemotongan TPP ini bermula dari pengembangan kasus dugaan suap jabatan serta gratifikasi berlapis yang sebelumnya telah menjerat sang bupati nonaktif. KPK menetapkan Suhardiman Amby sebagai tersangka bersama dua orang lainnya, yaitu Sekretaris Daerah (Sekda) Kuansing Zulkarnain dan Direktur Utama PT Mitra Ideal Consultant Ardiles. Dalam perkara suap jabatan, Suhardiman diduga menerima dua kali pemberian suap dari Zulkarnain yang berkaitan dengan posisi strategis di pemerintahan daerah, yakni untuk jabatan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan jabatan Sekda Kuansing yang diembannya. Dari sinilah penyidik mulai menelusuri aliran dana dan praktik lancung lainnya yang terjadi di lingkungan birokrasi Kuansing.

Dugaan pemotongan TPP ASN ini disinyalir erat kaitannya dengan upaya Suhardiman untuk menutupi kewajiban keuangan pribadinya. Berdasarkan temuan awal KPK, para ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuansing diduga diminta memberikan sumbangan atau kontribusi wajib guna menutupi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Temuan BPK tersebut berkaitan dengan kelebihan pembayaran yang sempat diterima oleh Suhardiman. Untuk mengembalikan uang kelebihan bayar tersebut kepada negara sesuai rekomendasi BPK, sang bupati nonaktif diduga membebankannya kepada para pegawainya melalui pemotongan penghasilan tambahan mereka secara sepihak.

Baca Juga

Kronologi Penemuan Dua Pendaki Gunung Piramid Bondowoso yang Tewas Terjatuh

Kronologi Penemuan Dua Pendaki Gunung Piramid Bondowoso yang Tewas Terjatuh

Selain persoalan pemotongan TPP dan suap jabatan, KPK juga mengusut dugaan gratifikasi lain yang melibatkan pelepasan kawasan hutan. Suhardiman diduga menerima gratifikasi senilai 14.000 Dolar Singapura dari para petani yang tergabung dalam Koperasi Unit Desa (KUD) di wilayahnya. Gratifikasi ini diduga diberikan sebagai imbalan atas pengurusan pelepasan kawasan hutan. Padahal secara regulasi, kewenangan penuh untuk melepaskan kawasan hutan berada di bawah otoritas Kementerian Kehutanan. Pemerintah daerah sebenarnya hanya memiliki kewenangan terbatas untuk memberikan rekomendasi teknis serta kesesuaian tata ruang, bukan memutuskan pelepasan kawasan tersebut secara mandiri. Dari total uang gratifikasi sebesar 14.000 Dolar Singapura tersebut, KPK mencatat bahwa uang senilai 12.000 Dolar Singapura di antaranya telah dikembalikan.

Dampak dari rangkaian tindakan ini tentu sangat dirasakan oleh para pegawai negeri di Kabupaten Kuansing. Kebijakan pemotongan TPP hingga setengahnya telah memicu ketidakpastian kesejahteraan bagi para ASN yang mengandalkan tunjangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain merugikan hak-hak pekerja di lingkup pemerintahan daerah, tindakan pengumpulan sumbangan paksa demi menutupi temuan BPK juga merusak tata kelola keuangan daerah dan mencederai prinsip transparansi birokrasi. Penyalahgunaan wewenang dalam pemberian rekomendasi tata ruang untuk pelepasan hutan pun berpotensi mengacaukan kepastian hukum investasi dan kelestarian lingkungan di daerah tersebut.

Baca Juga

KPK Tahan Tiga Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Proyek Digitalisasi SPBU Pertamina

KPK Tahan Tiga Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Proyek Digitalisasi SPBU Pertamina

Kini, KPK terus melangkah maju untuk menuntaskan penyidikan perkara rasuah ini secara menyeluruh. Salah satu fokus yang tengah didalami oleh tim penyidik adalah dugaan adanya aliran dana dari Suhardiman kepada Raja Juli terkait pelepasan kawasan hutan produksi terbatas. Raja Juli sendiri telah mengakui adanya pemberian amplop dari Suhardiman, namun ia mengeklaim telah mengembalikan amplop tersebut kepada pemberi melalui perantara ajudannya. Meskipun Raja Juli sempat melaporkan penolakan gratifikasi tersebut kepada KPK, laporan tersebut ditolak oleh lembaga antirasuah. KPK menegaskan bahwa proses hukum dan penyidikan mengenai dugaan pemberian uang ini akan terus berjalan guna memastikan semua pihak yang terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban di depan hukum.

Ikuti apriniageosat.co.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

KPKkorupsiSuhardiman AmbyKuansing

Berita Terbaru Lainnya

Samsat Keliling Hadir di 14 Wilayah Jadetabek Hari Ini, Simak Syarat dan Alternatif LayanannyaKejagung Ungkap Empat Perusahaan Don Ritto yang Diduga Jadi Tempat Pencucian Uang FebriePengecoran Jalan Raya Bogor Arah Pasar Rebo Picu Kemacetan Pagi IniPolisi Usut Aksi Perekaman Diam-Diam terhadap Usher GIIAS 2026Kronologi Penemuan Dua Pendaki Gunung Piramid Bondowoso yang Tewas TerjatuhKPK Tahan Tiga Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Proyek Digitalisasi SPBU PertaminaDua Murid Sekolah Rakyat Wakili Indonesia di Forum Anak ASEAN 2026, Bagaimana Persiapan dan Peran Mereka?Derby Milan di Australia dan Laga Pramusim Sengit Hiasi Jadwal Bola Malam Ini 5-6 Agustus 2026

Paling Banyak Dibaca

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Dorong Substitusi Batu Bara, Biomassa Berbasis Residu Industri Diakselerasi untuk PLTU

General News

Dorong Substitusi Batu Bara, Biomassa Berbasis Residu Industri Diakselerasi untuk PLTU

29 Jul 2026

Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Terendah, Kenali Lima Ciri Kelas Bawah

Ekonomi

Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Terendah, Kenali Lima Ciri Kelas Bawah

26 Jul 2026

Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Negara

Ekonomi

Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Negara

1 Agu 2026

Fakta Baru Kematian Dokter Internship di Apartemen Kalibata, Kemenkes Buka Suara

Kesehatan

Fakta Baru Kematian Dokter Internship di Apartemen Kalibata, Kemenkes Buka Suara

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan 路 25 Jul 2026
  2. 2Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum 路 27 Jul 2026
  3. 3Dorong Substitusi Batu Bara, Biomassa Berbasis Residu Industri Diakselerasi untuk PLTUGeneral News 路 29 Jul 2026
  4. 4Prabowo Sebut Kemiskinan Ekstrem Terendah, Kenali Lima Ciri Kelas BawahEkonomi 路 26 Jul 2026
  5. 5Ketum Kadin Ungkap Isi Pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana NegaraEkonomi 路 1 Agu 2026
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap