Menelusuri Kisah Jakarta dari Dek Terbuka

Uria Anyi ApuiPublished 26 Jul 2026 - 11.25 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Menelusuri Kisah Jakarta dari Dek Terbuka
Foto/Ilustrasi: liputan6.com.
A-A+

Di atas kursi paling depan lantai dua sebuah bus tingkat, panorama ibu kota tiba-tiba terasa lebih akrab. Headphone yang tersedia menyiarkan suara pemandu, mengiringi laju kendaraan yang meninggalkan kawasan Sarinah, simbol denyut modern Jakarta. Langit yang membentang tanpa kaca depan mengubah perjalanan menjadi pengalaman menonton film dokumenter langsung. Angin yang sesekali mengibas rambut menjadi penanda bahwa perjalanan ini bukan sekadar berpindah, melainkan membaca wajah kota dari sudut yang jarang disinggahi.

Rute Jakarta Batavia, yang baru diluncurkan Transjakarta, membawa penumpang menyusuri jalur menuju Kota Tua dalam waktu sekitar satu jam. Dari dek terbuka, bangunan-bangunan tua di Glodok berdiri anggun dengan arsitektur kolonialnya yang masih utuh. Detil fasad, jendela-jendela tinggi, dan pintu kayu berukir menjadi pengingat masa ketika kawasan ini adalah pusat perniagaan Batavia. Di kejauhan, gedung-gedung kaca perkantoran muncul sebagai kontras yang justru memperkaya cerita: Jakarta tak pernah benar-benar meninggalkan masa lalunya meski terus berpacu menjadi kota global.

Also Read

Doa Seorang Ibu di Kebun Sayur yang Berbuah Peringkat Pertama Selama Lima Tahun

Di tengah padatnya lalu lintas, keistimewaan bus ini terletak pada kemampuannya meredam kebisingan lewat perangkat audio yang jernih. Cerita demi cerita mengalir, mulai dari Museum Bank Indonesia yang dahulu menjadi denyut keuangan Hindia Belanda hingga persimpangan jalan yang menyimpan nama-nama bersejarah. Penumpang tak perlu khawatir kehilangan momen memotret; area berdiri dengan pagar pengaman disediakan untuk membingkai lanskap tanpa halangan. Suara klakson seolah menjadi latar yang justru mengukuhkan suasana urban yang hidup.

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, Welfizon Yuza, menekankan bahwa inovasi ini bukan semata-mata menambah rute, melainkan menawarkan perspektif segar tentang kota. “Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi pengguna transportasi, tetapi juga saksi perkembangan dan identitas Jakarta,” ucapnya. Senada dengan hal itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebut bahwa banyak warga setiap hari melintasi jalan yang sama tanpa benar-benar melihat. Kehadiran Open Top Tour Jakarta Batavia, katanya, adalah ajakan untuk duduk, memandang, dan kembali mendengarkan kisah tempat berpijak.

Also Read

Usai 17 OTT, Kemendagri dan KPK Keliling 10 Klaster Daerah

Ketika senja merayap, lampu-lampu jalan dan gedung mulai menyala, mengubah rona ibu kota. Perjalanan berakhir di Kota Tua dengan langit yang telah bertabur cahaya malam. Dengan tarif Rp75.000 per orang, perjalanan ini tidak hanya menawarkan tamasya murah, melainkan jeda berharga dari ritme kota yang serba cepat. Di atas roda yang membelah jantung Jakarta, penumpang turun dengan membawa lebih dari sekadar foto: mereka membawa potongan cerita yang mungkin esok hari sudah berubah.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca