Jakarta kerap dihadapkan pada tantangan cuaca panas yang menyengat dan mengganggu kenyamanan aktivitas warganya. Menanggapi persoalan ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyiapkan langkah strategis berupa operasi modifikasi cuaca. Rencana penanganan suhu panas di Kota Jakarta ini diungkapkan oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani. Keterangan tersebut disampaikan setelah dirinya menghadiri rapat terbatas bersama Presiden RI Prabowo Subianto serta sejumlah jajaran pejabat terkait di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (28/7). Operasi ini dirancang untuk menurunkan suhu udara secara situasional agar wilayah ibu kota menjadi lebih sejuk.
Dalam merealisasikan rencana tersebut, BMKG menjalin kolaborasi erat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta. Kerja sama ini diwujudkan melalui persiapan infrastruktur teknologi di lapangan. Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan oleh BMKG dan BPBD DKI Jakarta adalah memasang alat khusus yang disebut ground-based generator (generator berbasis darat). Alat-alat ini dipasang di beberapa gedung tinggi di Jakarta guna mempermudah proses intervensi cuaca langsung dari wilayah perkotaan.
Pemprov DKI Targetkan Penataan 50 RW Kumuh pada 2027

Secara teknis, jurus modifikasi cuaca ini mengandalkan keberadaan awan yang melintas di atas langit Jakarta. Ketika instrumen pemantau mendeteksi adanya awan yang dinilai potensial atau cukup "sehat" untuk menghasilkan hujan, generator yang berada di gedung-gedung tinggi tersebut akan diaktifkan. Alat tersebut kemudian melepaskan uap air atau flare ke atmosfer. Pelepasan materi ini berfungsi untuk menstimulasi awan agar segera mencair dan menurunkan hujan di wilayah Jakarta, sehingga suhu udara yang panas perlahan-lahan bisa mendingin.
Kendati demikian, BMKG memberikan catatan penting mengenai keterbatasan materiil dari teknologi ini. Operasi modifikasi cuaca bukanlah metode yang bisa menciptakan hujan dari langit yang benar-benar bersih tanpa awan. Keberadaan awan pembawa hujan merupakan prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Apabila kondisi langit Jakarta bersih total dari awan, maka proses modifikasi cuaca tidak akan mungkin dapat dilaksanakan. Ketidakpastian cuaca dan ketersediaan awan alami inilah yang membuat operasi ini bersifat sangat situasional.
Ada 64 Hotspot Karhutla di Sumut, Paling Banyak di Karo

Langkah modifikasi cuaca ini juga tidak serta-merta dijalankan setiap hari. BMKG menetapkan ambang batas waktu tertentu sebelum memutuskan untuk melakukan intervensi. Operasi ini baru akan diambil sebagai langkah darurat jika hujan sama sekali tidak turun di Jakarta dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu berturut-turut. Durasi tanpa hujan yang panjang ini tidak hanya memicu kenaikan suhu udara, tetapi juga berdampak buruk pada lingkungan. Ketika Jakarta mengalami periode kering yang panjang tanpa guyuran hujan, kualitas udara di ibu kota akan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Oleh karena itu, modifikasi cuaca menjadi solusi situasional yang penting untuk menjaga kenyamanan sekaligus menekan dampak buruk penurunan kualitas udara tersebut.






