Di tengah ramainya diskusi tentang serangan sistem imun yang keliru menyerang tubuh sendiri, satu dimensi kerap jatuh dalam sunyi: kesehatan mental penyandangnya, khususnya pada anak-anak. Banyak keluarga dan tenaga medis masih berfokus pada deret gejala fisik seperti nyeri sendi, ruam kulit, atau kelelahan ekstrem, sementara guncangan batin yang menghantui pasien muda justru tidak tersentuh. Padahal, rasa takut, kesepian, dan stigma yang tumbuh sejak diagnosis bisa menjadi beban yang diam-diam memperburuk perjalanan terapi. Gangguan psikologis semacam ini sering kali dianggap sebagai reaksi wajar, sehingga kesempatan untuk intervensi dini pun hilang.
Profesor Nyoman Kertia, pakar reumatologi dan internis yang juga menekuni riset herbal di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), mengamati dua pola ekstrem yang sama-sama merugikan. Ada pasien yang begitu menikmati hilangnya gejala setelah mengonsumsi obat lantas meyakini bahwa penyakitnya telah sembuh total, lalu memutus pengobatan tanpa berkonsultasi. Keyakinan prematur ini kerap memicu kekambuhan yang lebih berat. Di sisi berlawanan, muncul sekelompok pasien yang justru terperosok ke dalam depresi begitu mendengar vonis autoimun, merasa hidup akan segera berakhir, dan kehilangan semangat untuk menjalani terapi sekaligus hari-harinya. Kedua respons itu sama-sama menjadi batu sandungan serius dalam tata laksana autoimun.








