Di tengah ramainya diskusi tentang serangan sistem imun yang keliru menyerang tubuh sendiri, satu dimensi kerap jatuh dalam sunyi: kesehatan mental penyandangnya, khususnya pada anak-anak. Banyak keluarga dan tenaga medis masih berfokus pada deret gejala fisik seperti nyeri sendi, ruam kulit, atau kelelahan ekstrem, sementara guncangan batin yang menghantui pasien muda justru tidak tersentuh. Padahal, rasa takut, kesepian, dan stigma yang tumbuh sejak diagnosis bisa menjadi beban yang diam-diam memperburuk perjalanan terapi. Gangguan psikologis semacam ini sering kali dianggap sebagai reaksi wajar, sehingga kesempatan untuk intervensi dini pun hilang.
Profesor Nyoman Kertia, pakar reumatologi dan internis yang juga menekuni riset herbal di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), mengamati dua pola ekstrem yang sama-sama merugikan. Ada pasien yang begitu menikmati hilangnya gejala setelah mengonsumsi obat lantas meyakini bahwa penyakitnya telah sembuh total, lalu memutus pengobatan tanpa berkonsultasi. Keyakinan prematur ini kerap memicu kekambuhan yang lebih berat. Di sisi berlawanan, muncul sekelompok pasien yang justru terperosok ke dalam depresi begitu mendengar vonis autoimun, merasa hidup akan segera berakhir, dan kehilangan semangat untuk menjalani terapi sekaligus hari-harinya. Kedua respons itu sama-sama menjadi batu sandungan serius dalam tata laksana autoimun.
Hubungan Stres dan GERD, Bagaimana Pikiran Memengaruhi Asam Lambung

Tantangan tidak berhenti di sana. Obat-obatan imunosupresan yang lazim diresepkan bekerja dengan cara menekan aktivitas sistem pertahanan tubuh agar tidak lagi menyerang organ sendiri. Pendekatan ini memang mampu meredakan peradangan, tetapi membuka celah lain: tubuh menjadi lebih rentan terhadap bakteri, virus, dan aneka kuman. Profesor Nyoman menekankan bahwa kondisi ideal sesungguhnya bukan sekadar memadamkan agresivitas imun, melainkan melatih kembali sistem tersebut untuk membedakan mana jaringan diri yang harus dilindungi dan mana benda asing yang harus dilawan. Di titik inilah celah besar dalam terapi konvensional terlihat, sekaligus menjadi alasan mengapa banyak pasien terus bergulat dengan efek samping jangka panjang.
Keresahan tersebut mendorong pengembangan riset obat herbal yang digagas oleh Profesor Nyoman. Menurutnya, selama ini ketergantungan pada sediaan kimiawi menimbulkan pelbagai persoalan baru bagi tubuh, sehingga diperlukan terapi yang mampu menyentuh akar masalah: mengembalikan fungsi sistem imun ke jalur yang normal, alih-alih terus-menerus mengekangnya. Harapannya, di masa depan akan hadir pendekatan yang lebih bersahabat, tidak sekadar menekan, tetapi memulihkan mekanisme pengenalan diri yang sempat kacau. Riset ini menjadi semacam jembatan antara kearifan tanaman obat nusantara dan kebutuhan medis modern yang semakin mendesak.
Ramalan Zodiak Pisces dan Aries Selasa, 25 Agustus 2026

Di luar urusan molekuler dan herbal, pesan paling membumi dari sang peneliti justru menyangkut cara menjalani hidup. Ia mengingatkan bahwa menikmati setiap pekerjaan yang dilakukan akan menyelamatkan energi jiwa; memaksakan diri bergulat dengan rutinitas yang tidak disukai berarti membayar dua kali lipat鈥攎elawan ketidaknyamanan batin dan menuntaskan kewajiban itu sendiri. Bagi mereka yang memiliki bakat genetik autoimun, kuncinya terletak pada pengelolaan faktor pemicu. Stres berlebih, kelelahan yang dipaksakan, serta paparan sinar matahari yang berkepanjangan sebaiknya dihindari. Ditetapkan pula prinsip hidup bersih, menjauh dari asap rokok dan alkohol, sebagai benteng sederhana yang dapat menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran secara bersamaan.






