Likuiditas Anjlok, ADCP Tak Mampu Penuhi Tuntutan Refund 2.400 Konsumen

Usat NgajiPublished 26 Jul 2026 - 03.43 · 0 Reads
Bagikan WhatsAppX
Likuiditas Anjlok, ADCP Tak Mampu Penuhi Tuntutan Refund 2.400 Konsumen
Foto/Ilustrasi: tirto.id.
A-A+

Bagi Pande, tujuh tahun menanti serah terima unit apartemen LRT City Ciracas bukanlah napas panjang penuh harap, melainkan ritme lelah yang kini menguap begitu saja. Di pertemuan mediasi yang digelar Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), warga yang membeli unit sejak bertahun-tahun lalu itu hanya membawa satu tuntutan: kembalikan semua dana. Ia tak sendiri. Sekitar 2.400 pembeli apartemen LRT City bernasib serupa, terkatung-katung tanpa kunci pintu yang semestinya sudah dipegang pada 2023 hingga 2024. Ruang mediasi menjadi cermin letupan kekecewaan yang tak terbendung, semua muara pada kata yang sama—full refund.

Di balik gelombang tuntutan itu, PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) justru membentangkan kenyataan yang bertolak belakang. Direktur Utama ADCP Indra Syahruzza membeberkan kondisi keuangan perseroan yang terpelintir oleh likuiditas jeblok. Arus kas, katanya, sudah negatif dan terus merosot setiap bulan. Hingga Juni 2026, angka defisit bahkan menyentuh 900 miliar rupiah, sebuah beban yang membuat mimpi pengembalian dana nyaris mustahil. Pengakuan itu tidak hanya menepis harapan ribuan konsumen dalam sekali duduk, tetapi juga mengisyaratkan betapa dalam luka neraca perusahaan pengembang pelat merah tersebut.

Also Read

Lelah Menanti Proyek LRT City, Konsumen Kini Hanya Ingin Uangnya Kembali

Kondisi internal ADCP kian runyam. Perusahaan tengah menjalani restrukturisasi dan pergantian susunan manajemen, dua proses besar yang kerap menyeret energi dan fokus. Indra yang baru bergabung dari sister company mengaku tidak mengetahui detail sebab-musabab terjadinya krisis, namun ia memastikan persoalan arus kas negatif sudah berlangsung lama. “Sebelumnya saya di sister company sudah memahami si. Sudah lama ini sebetulnya terjadinya. Tapi detailnya saya tidak tahu,” ucapnya, seolah mengonfirmasi bahwa karang keuangan ini bukanlah fenomena mendadak, melainkan endapan masalah yang mungkin terabaikan.

Menteng harapan konsumen bertumpu pada meja mediasi itu. Mayoritas pembeli tidak lagi menuntut kelanjutan proyek, melainkan totalitas pemulangan uang yang telah mereka setorkan, lengkap dengan semua biaya yang timbul sejak transaksi. Tujuh tahun adalah jarak yang terlalu panjang untuk sekadar menunggu janji yang tak terwujud. Namun di sisi lain, ADCP mesti jujur bahwa refund adalah jalan terjal. Likuiditas yang “sangat jeblok”, frase yang dipilih Indra untuk menggambarkan kedalaman krisis, menjadi tembok tinggi yang memisahkan tuntutan konsumen dengan kemampuan perusahaan.

Also Read

Brasil Taklukkan Italia dalam Drama Lima Set di Makau, Amankan Tiket Final VNL Putri 2026

Kasus ini menjadi potret muram dari absennya jaring pengaman bagi konsumen properti ketika pengembang terhimpit. Instrumen seperti kontrak jual beli dan skema pendanaan yang semestinya melindungi ternyata tidak berdaya menghadapi realitas cash flow negatif. Mediasi oleh Kementerian PKP barangkali merupakan langkah awal, namun jalan keluar yang memuaskan semua pihak masih amat samar. Selagi ADCP berjuang menambal bokong laporan keuangannya, ribuan warga yang telah bertahun-tahun menyimpan mimpi di apartemen LRT City hanya bisa kembali menanti—kali ini bukan untuk kunci, tetapi sekadar kabar bahwa uang mereka akan pulang.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca