apriniageosat.co.id
BerandaNasionalHukumEkonomiOlahragaPolitikBisnisTeknologiInternasionalSportsPoliticsBusinessNationalPopuler
Beranda/Internasional

Langit Oranye dan Kepanikan di Robledo, Ketika Teknologi Tak Mampu Membendung Api

Usat NgajiDiterbitkan 26 Jul 2026 - 20.25 · 2 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Langit Oranye dan Kepanikan di Robledo, Ketika Teknologi Tak Mampu Membendung Api
Foto/Ilustrasi: Media Indonesia
A-A+

David Olivares tak pernah menyangka malam itu akan berubah menjadi mimpi buruk. Menjelang tidur pada Kamis malam, warga Robledo de Chavela, sekitar 50 kilometer di barat Madrid, itu masih merasa aman. Ancaman kebakaran hutan seolah hanya gosip jauh di balik pegunungan. Namun keesokan harinya, gumpalan asap putih di ufuk lekas berganti menjadi asap hitam pekat yang merayap mendekat. Pukul 17.30, dering peringatan darurat di ponselnya memecah rutinitas sore. “Saya sempat berpikir, ini kan 2026, pasti petugas pemadam bisa mengendalikannya dengan semua drone dan pesawat yang mereka punya,” kenang pemuda 27 tahun itu dari pusat olahraga Las Rozas yang kini menjadi tempatnya mengungsi. Nyatanya, keyakinan pada teknologi modern runtuh seketika ketika langit berubah warna menjadi oranye menyala. “Terlihat sangat apokaliptik. Lalu asap hitam mengepul di atas Robledo, api terlihat jelas, orang-orang berteriak—seorang anak menjerit pada ayahnya, ‘Ayo pergi sekarang!’—mobil dan warga berhamburan ke segala arah. Rasanya seperti kiamat.” Dalam kepanikan, Olivares hanya sempat meraih tiga kucing kesayangan, melompat ke mobil, dan melarikan diri.

Kengerian serupa dirasakan María Rosa Marín, pengungsi asal Valdemaqueda. Ia menggambarkan matahari yang nyaris tak terlihat, tertutup lapisan asap tebal yang membuatnya tampak ganjil. “Seperti sesuatu yang keluar dari kisah-kisah Alkitab,” ujarnya. Malam itu, Olivares, Marín, dan sekitar 300 pengungsi lainnya meringkuk di aula pusat olahraga Las Rozas yang disulap menjadi tempat penampungan darurat. Di antara deretan matras dan selimut, gelisah menggantung di udara: tak seorang pun tahu kapan bisa pulang, atau apakah rumah mereka masih berdiri.

Baca Juga

Hubungan Stres dan GERD, Bagaimana Pikiran Memengaruhi Asam Lambung

Hubungan Stres dan GERD, Bagaimana Pikiran Memengaruhi Asam Lambung

Skala bencana ini jauh lebih besar dari yang tampak di pusat pengungsian. Secara keseluruhan, sekitar 87.000 jiwa di wilayah tengah Spanyol diperintahkan mengungsi atau mengurung diri saat api melahap hutan dan lahan kering yang dipicu krisis iklim. Presiden regional Madrid menyebut peristiwa ini sebagai kebakaran hutan paling dahsyat dalam sejarah wilayah mereka. David Santos, Anggota Dewan Keselamatan dan Darurat Las Rozas, mengakui para pengungsi dihantui kecemasan akut. Tiga psikolog darurat dan tim medis disiagakan, sementara bantuan logistik serta pojok bermain untuk anak-anak disiapkan untuk meredakan trauma yang mulai merayap.

Di sudut lain pusat olahraga, José Celaya, pria 61 tahun asal Robledo, memandang bencana ini bukan semata-mata buah perubahan iklim. Baginya, ini adalah puncak dari kelalaian panjang tata kelola pedesaan. “Ini murni akibat kebijakan yang keliru—dan saya tidak peduli partai mana yang berkuasa,” katanya getir. Ia merindukan masa ketika bukit-bukit masih dirawat dengan cara lama: ternak digembalakan untuk mengendalikan vegetasi, warga diizinkan mengumpulkan kayu bakar yang kini menumpuk menjadi bahan bakar maut. “Sekarang tidak ada lagi hewan yang merumput, tidak ada yang membersihkan semak belukar. Semua kebijakan itu tidak ada hubungannya dengan cara kami dulu merawat perbukitan.” Suaranya mencerminkan kemarahan yang ditahan—sebuah protes sunyi terhadap modernisasi yang melupakan kearifan lokal.

Baca Juga

Ramalan Zodiak Pisces dan Aries Selasa, 25 Agustus 2026

Ramalan Zodiak Pisces dan Aries Selasa, 25 Agustus 2026

Meski begitu, Celaya memilih untuk tidak larut dalam amarah. Ia memuji kerja keras petugas yang sigap menangani pengungsi dengan segala keterbatasan. “Tidak ada gunanya emosi, marah tak akan menyelesaikan apa pun. Semua orang hanya harus bertahan sebaik mungkin,” tambahnya. Kini, segalanya bergantung pada cuaca—seberapa kencang angin berembus dan ke arah mana lidah api bergerak. Di aula pengungsian yang dipenuhi aroma keringat dan harap yang rapuh, Olivares, Celaya, dan ratusan lainnya menanti dengan tatapan kosong. Dunia boleh berubah menjadi oranye dan hitam, tetapi di antara gemuruh bencana, mereka masih menggenggam satu hal: kesabaran yang tersisa, selagi langit belum sepenuhnya runtuh.

Ikuti apriniageosat.co.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

perubahan iklimkebakaran hutanSpanyolMadridevakuasitata kelola lahan

Berita Terbaru Lainnya

Perkembangan Regulasi Apple di Indonesia, iPhone 16 Tertunda, iPhone 17e Kantongi Sertifikasi TKDNKelanjutan Kasus Pailit Sritex, Rencana Penyelamatan Ekonomi dan Perkembangan Lelang AsetOtorita IKN Optimistis Dampak Ekonomi Tahap Dua Meningkat, Sektor Properti dan Bandara Jadi SorotanGagal di Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Alihkan Fokus ke FIFA ASEAN CupKetentuan Pendaftaran Seleksi PPPK Tahap II bagi Tenaga Non-ASN di Database BKNBakti Komdigi Optimalkan Satelit Satria-1 Jaga Internet di Sangihe, Talaud, dan SitaroJelang Waisak 2570 BE, Arca Unfinished Buddha Borobudur Dipindahkan ke Lapangan KenariRencana Penerapan Single Salary ASN, Guru Cemas Nasib Tunjangan Sertifikasi

Paling Banyak Dibaca

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

Ekonomi

Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di Morowali

27 Jul 2026

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

Nasional

Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASN

25 Jul 2026

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

Megapolitan

Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus Transjakarta

25 Jul 2026

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

Hukum

Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu Timur

27 Jul 2026

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

Metropolitan

Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta Timur

27 Jul 2026

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

Pariwisata

Gelombang Perhelatan Dunia Siap Guyur Indonesia hingga Awal 2027

26 Jul 2026

🔥

Populer

  1. 1Langkah Strategis Vale Indonesia Membangun Rantai Pasok Baterai Kendaraan Listrik di MorowaliEkonomi · 27 Jul 2026
  2. 2Di Balik Meja Birokrasi, Saat Jarak dan Kesepian Jadi Musuh Produktivitas ASNNasional · 25 Jul 2026
  3. 3Manuver Maut di Tikungan Sudirman, Kaki Pemotor Terlindas Bus TransjakartaMegapolitan · 25 Jul 2026
  4. 4Polisi Tahan Suami yang Aniaya Istri hingga Tewas di Luwu TimurHukum · 27 Jul 2026
  5. 5Dua Orang Tewas dalam Kebakaran Rumah di Pulo Gadung Jakarta TimurMetropolitan · 27 Jul 2026

apriniageosat.co.id

Copyright 2026 apriniageosat.co.id - All Rights Reserved.

Kategori

NasionalHukumEkonomiOlahragaPolitikBisnisTeknologiInternasionalSportsPoliticsBusinessNational

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap