Krisis migrasi yang melibatkan ribuan warga Maroko yang menyeberang ke wilayah Ceuta, daerah kekuasaan Spanyol di Afrika Utara, kini memicu ketegangan diplomatik dan perdebatan politik yang sengit. Kementerian Dalam Negeri Spanyol pada Jumat (31/7/2026), seperti dikutip oleh Time, melaporkan bahwa hampir 50.000 migran telah memasuki Ceuta sejak Kamis pagi hari sebelumnya. Gelombang migrasi massal ini dilakukan dengan cara berenang melintasi perbatasan laut. Namun, upaya berbahaya ini memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Setidaknya dilaporkan ada 67 orang tewas dalam proses penyeberangan tersebut. Otoritas Spanyol sendiri bergerak cepat dengan memulangkan kembali lebih dari 48.300 migran ke wilayah Maroko.








