Peristiwa memilukan terjadi di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Kejadian yang berlangsung pada hari Senin, 17 Agustus 2026 ini menyoroti aksi kekerasan dari kelompok bersenjata yang melakukan penculikan warga sipil secara paksa. Di tengah situasi mencekam tersebut, muncul kisah keberanian dari dua orang ibu setempat yang berupaya keras melindungi buah hati mereka. Kedua ibu ini berusaha mencegah kelompok bersenjata tersebut agar tidak membawa pergi anak-anak mereka secara paksa, meskipun harus menghadapi ancaman kekerasan yang nyata.
Upaya penyelamatan yang dilakukan oleh kedua ibu tersebut berujung pada tragedi yang memilukan. Salah satu ibu yang berani melakukan perlawanan adalah Neregingget Magai, seorang perempuan berusia 48 tahun. Demi mempertahankan anaknya agar tidak dibawa oleh kelompok bersenjata, ia harus kehilangan nyawanya setelah ditembak hingga tewas di tempat oleh kelompok tersebut. Setelah peristiwa penembakan yang merenggut nyawanya itu, jenazah Neregingget Magai langsung dikremasi oleh pihak keluarga pada sore hari di hari yang sama.
Rotasi 7 Pejabat DKI, Pramono Minta Tak Main di Luar Aturan

Nasib malang juga menimpa ibu lainnya yang bernama Inkolung Aim. Ia turut berjuang mencegah kelompok bersenjata mengambil paksa anaknya, namun tindakan tersebut dibalas dengan kekerasan oleh kelompok bersenjata tersebut. Inkolung Aim didorong oleh kelompok tersebut hingga masuk ke dalam jurang. Akibat tindakan kejam ini, ia mengalami patah tulang pada bagian kakinya. Saat ini, Inkolung Aim sedang menjalani perawatan medis untuk memulihkan kondisinya di Jila. Terkait data korban, Komandan Kodim 1710/Mimika Letnan Kolonel Infanteri Jozanda menyatakan bahwa pihaknya belum mendapatkan informasi mengenai berapa usia dari Inkolung Aim.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh Letnan Kolonel Infanteri Jozanda selaku Komandan Kodim 1710/Mimika, insiden ini bermula ketika kelompok bersenjata membawa paksa sembilan orang warga sipil pada hari Senin, 17 Agustus 2026. Sembilan warga sipil yang diculik tersebut mencakup anak-anak, remaja perempuan, serta seorang perempuan yang sedang dalam kondisi hamil muda. Tindakan penculikan paksa terhadap warga sipil ini mendapat kecaman keras dari Letnan Kolonel Infanteri Jozanda, yang secara tegas menyebut aksi kelompok bersenjata tersebut sebagai tindakan yang sangat keji dan tidak manusiawi.
Sembilan Warga Sipil Disandera Kelompok Bersenjata di Jila Mimika

Menanggapi aksi penculikan paksa tersebut, pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) langsung mengambil langkah cepat dengan mengerahkan personel ke lokasi kejadian. Pengerahan personel TNI ini bertujuan untuk melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata tersebut sekaligus menyelamatkan sembilan warga sipil yang dibawa paksa. Sementara itu, situasi keamanan di wilayah Distrik Jila dilaporkan secara berangsur-angsur mulai kondusif. Kendati demikian, hingga saat ini akses transportasi udara menuju ke wilayah Distrik Jila masih belum dapat dilakukan.






