Pergeseran fokus ekonomi di China kini mulai membawa dampak nyata bagi sektor-sektor bisnis tradisional yang selama ini menjadi penopang pasar saham negara tersebut. Salah satu fenomena paling mencolok adalah penurunan kinerja Kweichow Moutai, raksasa produsen minuman keras tradisional jenis baijiu. Ketika China semakin gencar mengarahkan investasinya ke sektor kecerdasan buatan (AI) dan teknologi tinggi, kejayaan produsen minuman keras mewah ini mulai menghadapi tantangan serius.
Kweichow Moutai mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 1,95% menjadi 44,5 miliar yuan, atau setara dengan Rp 117,48 triliun (sekitar US$ 6,6 miliar) pada semester pertama tahun ini. Penurunan laba pada paruh pertama tahun ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak 2014. Tren negatif ini melanjutkan performa kurang memuaskan dari tahun sebelumnya, di mana perusahaan mengalami kejatuhan laba bersih tahunan sebesar 4,5% pada 2025. Menurut data Wind Information, koreksi pada tahun 2025 tersebut merupakan penurunan tahunan pertama dalam sejarah berdirinya perusahaan.
Di lantai bursa, saham Moutai juga terus tertekan dengan pelemahan sebesar 5,7% secara year-to-date hingga hari Selasa. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi tahunan yang kini telah berlangsung selama empat tahun berturut-turut. Kondisi ini berbanding terbalik dengan sektor teknologi yang sedang naik daun. Sebagai contoh, produsen cip memori CXMT yang baru melantai di bursa bulan lalu langsung mencatatkan kapitalisasi pasar yang fantastis, mencapai 2,5 kali lipat lebih besar dibandingkan kapitalisasi pasar Moutai.
Miris! Banyak Timah RI Diselundupkan ke Malaysia dan Singapura

Perubahan peta kekuatan ekonomi ini tidak lepas dari transisi struktural di China yang kini lebih berfokus pada teknologi dan AI. Manajer Dana di Ba Luo Fund, Ye Yuhua, menjelaskan bahwa pergeseran fokus ke sektor teknologi kelas atas membuat para pelaku industri baru tidak lagi memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi baijiu. Kebiasaan ini sangat berbeda dengan para pekerja di sektor properti dan infrastruktur yang dahulu menjadi konsumen utama minuman keras premium tersebut untuk keperluan relasi bisnis. Menurut Ye Yuhua, pasar baijiu kini telah memasuki fase jenuh. Apalagi, investasi aset tetap perkotaan termasuk real estat dan infrastruktur di China merosot 5,7% dalam enam bulan pertama, yang bertepatan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang mencatatkan laju terlemah sejak kuartal keempat 2022.
Kelesuan ini memicu kekhawatiran di kalangan investor besar. Dua entitas dana negara China, yakni Central Huijin dan China Securities Finance, dilaporkan telah angkat kaki dan tidak lagi terdaftar dalam jajaran 10 pemegang saham terbesar Moutai. Menurut Analis Saham Independen Dongfang Li, hengkangnya investor institusi raksasa ini menjadi sinyal bahwa nilai tawar Moutai dalam negosiasi bisnis sedang menyusut, meskipun margin kotor perusahaan sebenarnya masih sangat tinggi di angka 90%.
HUT ke-81 RI, Tradisi Sedekah Blora Kumpulkan 15.540 Sega Berkat

Kendati demikian, tidak semua pihak melihat situasi ini sebagai kemunduran permanen. Analis dari Citi dan Morningstar menilai penurunan kinerja saat ini lebih disebabkan oleh masa transisi strategi penjualan internal, di mana perusahaan sedang beralih dari sistem grosir menuju penjualan langsung ke konsumen. Citi bahkan tetap mempertahankan peringkat 'beli' untuk saham Moutai. Kedua lembaga tersebut memproyeksikan laba bersih Moutai akan kembali tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 8% dari tahun 2025 hingga 2030.
Di sisi lain, ketidakpastian pasar membuat sebagian besar pelaku pasar bersikap hati-hati. Pakar Strategi Investasi Modal Global di China Asset Management, Wenjie Ding, mengungkapkan bahwa mayoritas investor saat ini memilih sikap menunggu sebelum memutuskan untuk kembali menyuntikkan dana mereka. Sikap waspada ini juga tercermin dari data ETF yang menunjukkan arus keluar bersih secara konstan dari berbagai perusahaan makanan dan minuman yang memiliki bobot baijiu signifikan di sepanjang tahun ini.






