Sungai sering kali dianggap sebagai urat nadi peradaban manusia sejak zaman dahulu, namun ironisnya kini kerap diperlakukan layaknya tempat pembuangan sampah raksasa. Menghadapi kontradiksi yang memprihatinkan ini, momentum peringatan Hari Sungai Nasional 2026 menjadi alarm keras bagi seluruh lapisan masyarakat untuk segera mengubah cara pandang mereka terhadap aliran air di sekitar kita. Sungai bukan sekadar saluran air yang mengalir pasif menuju laut, melainkan sebuah investasi jangka panjang bagi keberlangsungan hidup generasi mendatang yang kelestariannya harus dijaga secara ketat dan kolektif.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengingatkan bahwa upaya pemulihan ekosistem air ini tidak akan pernah berhasil jika hanya dibebankan kepada pundak pemerintah semata. Diperlukan kolaborasi erat yang melibatkan seluruh elemen masyarakat serta sektor swasta. Langkah bersama ini sangat krusial mengingat sungai memegang peran yang sangat vital dalam menyokong kehidupan sehari-hari. Mulai dari penyedia air baku untuk konsumsi rumah tangga, sistem irigasi pertanian yang menghidupi ketahanan pangan, penyeimbang ekosistem hayati, penangkal bencana banjir, hingga penopang perekonomian warga, semuanya sangat bergantung pada kesehatan aliran sungai tersebut.
KRL Angke鈥揗anggarai Sempat Terganggu akibat Mobil Tertemper di Antara Tanah Abang-Karet

Kondisi sungai saat ini memang kian tertekan akibat laju modernisasi dan aktivitas manusia yang kurang bertanggung jawab. Di Jawa Timur sendiri, terdapat sejumlah sungai strategis yang menjadi tumpuan hidup jutaan jiwa. Aliran air penting tersebut meliputi daerah aliran Sungai Brantas yang terbagi menjadi Kali Mas dan Kali Porong, Bengawan Solo dengan anak sungainya Kali Madiun, serta beberapa sungai penting lainnya seperti Sampean, Bondoyudo, Bedadung, hingga Rejoso dan Welang. Menjaga kebersihan sungai-sungai ini dari ancaman pencemaran industri dan sampah domestik menjadi pekerjaan rumah yang mendesak untuk diselesaikan.
Sebagai bentuk nyata dari komitmen menjaga kelestarian lingkungan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menggalakkan berbagai langkah taktis di lapangan. Upaya penyelamatan ini diimplementasikan melalui kegiatan susur sungai secara berkala untuk memetakan titik rawan, patroli rutin guna memantau aktivitas pembuangan limbah, serta perlindungan intensif terhadap area sekitar sumber mata air. Langkah-langkah strategis ini tidak hanya bertujuan untuk mendeteksi potensi kerusakan lingkungan sejak dini, melainkan juga untuk memperketat pengawasan terhadap pelaku pencemaran dan menjamin ketersediaan pasokan air bersih yang layak bagi publik.
Nasib Praperadilan Febrie Adriansyah Ditentukan Pekan Ini

Sinergi lintas sektor ini mendapatkan momentum positif dengan diadakannya Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 yang dipusatkan di Wana Wisata Mata Air Sumber Gempong, Ketapanrame, Mojokerto. Forum berskala nasional ini dihadiri oleh sedikitnya 500 pegiat lingkungan dan perwakilan dari 170 komunitas peduli sungai yang datang dari berbagai penjuru tanah air, mulai dari Aceh hingga Papua. Melalui rangkaian agenda seperti seminar lingkungan, aksi nyata pembersihan sampah di sungai, penanaman bibit pohon di kawasan hulu, serta deklarasi bersama, seluruh elemen masyarakat diajak untuk memupuk kembali semangat gotong royong demi menyelamatkan sumber daya air demi masa depan.






