Di bawah langit Sabtu pagi yang cerah di Desa Wisata Lubok Sukon, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, pemandangan berbeda tersaji. Puluhan anak usia sekolah dasar berkumpul bukan untuk menatap ponsel atau konsol gim, melainkan untuk menggenggam pelepah pinang kering, bilah bambu, dan papan kayu panjang. Itulah hari pertama Festival Permainan Tradisional Anak yang digelar pada 25 Juli 2026, merayakan warisan luhur yang nyaris terlupa.
Sorak sorai paling riuh terdengar dari arena tarik upih pinang, atau yang dalam bahasa Aceh disebut tarek situek. Dua anak duduk bertumpu di atas pelepah pinang yang telah dilicinkan, masing-masing berpegangan erat pada seutas tali. Dua kelompok yang lain di ujung berlawanan siap menarik. Begitu aba-aba terdengar, otot-otot kecil mereka mengencang, kaki menjejak tanah berpasir, sementara penonton—sebagian besar orang tua dan warga—melompat-lompat memberi semangat. Permainan yang mengandalkan keseimbangan dan kekuatan kolektif ini tidak hanya memacu adrenalin, tetapi juga menghidupkan kembali filosofi gotong royong yang menjadi nadi masyarakat Aceh.
Tak jauh dari situ, derap langkah kayu bambu terdengar gemerincing. Di arena egrang, para peserta berusaha menjaga titik berat badan pada dua galah panjang dengan pijakan kaki yang sempit. Ada yang melangkah gagah sejauh lima meter sebelum oleng, ada pula yang baru naik sudah jatuh disambut tawa teman-teman. Namun, tidak ada tangis atau rasa malu yang tersisa. Setiap jatuh justru melatih kegigihan, mengubah ambruknya tubuh menjadi pelajaran berharga tentang pantang menyerah. Bagi generasi yang terbiasa dengan kepuasan instan, egrang menjadi guru yang mengajarkan bahwa proses sepadan dengan hasil.
KPAI Mendorong Jaminan Mutlak Hak Pendidikan Anak dengan HIV/AIDS

Sementara itu, permainan bakiak menghadirkan adu cepat yang menegangkan sekaligus kompak. Tiga anak berdiri di atas sandal kayu sepanjang hampir dua meter, kaki mereka terikat selot, bergerak kiri-kanan-kiri secara serempak. Begitu komando berbunyi, tiap kelompok berusaha menyatukan ritme. Kekompakan menjadi kunci; jika satu anak saja terlambat mengangkat kaki, seluruh tim bisa terguling. Di sinilah komunikasi tanpa kata terasah—sebuah senyum dan anggukan kecil antara rekan satu tim menjadi penentu kemenangan. Bakiak merajut kebersamaan yang melebihi sekadar lomba.
Festival yang diselenggarakan di Desa Wisata Lubok Sukon ini bukan sekadar arena bermain, melainkan juga benteng budaya di tengah arus digital tak terbendung. Dengan menghadirkan permainan yang memanfaatkan bahan alam dan menggerakkan seluruh tubuh, anak-anak diajak kembali pada ruang interaksi nyata. Mereka tidak lagi berhadapan dengan avatar di layar, melainkan dengan sahabat yang sama-sama berkeringat dan tertawa. Nilai-nilai seperti kesabaran, kerja sama, dan sportivitas yang sering kali abstrak dalam kelas, mendadak menjadi sangat konkret setiap kali sepatu kayu melangkah maju atau pelepah pinang terdorong oleh kekuatan bersama.
Dari Bundaran HI ke Layar Ponsel, Ketika Ikon Kota Jadi Panggung Buru Konten Instan

Di balik gelak tawa itu, tersimpan misi lebih dalam: memastikan tarek situek, egrang, dan bakiak tetap dikenang bukan hanya sebagai foto kenangan, melainkan sebagai permainan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Desa Wisata Lubok Sukon dengan festival ini membuktikan bahwa masa kecil tidak harus selalu berteman dengan gawai; pelepah pinang dan bambu pun bisa menjadi sahabat yang mengajarkan lebih banyak tentang arti keseimbangan—baik di atas tanah maupun dalam kehidupan. Sabtu itu, layar-layar digital kalah oleh kilau keringat dan senyum anak-anak Aceh.






