Di era modern ini, keterhubungan secara digital tidak serta-merta membebaskan manusia dari rasa terasing. Data Reportal mencatat bahwa hingga tahun 2025, terdapat 5,25 miIiar pengguna aktif media sosial dari total populasi global yang mencapai 8,2 miliar jiwa. Namun, di balik tingginya interaksi di dunia maya, kesepian justru menjelma menjadi krisis nyata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengidentifikasi kesepian sebagai ancaman kesehatan global. Bahkan, data gabungan dari WHO dan PBB pada tahun 2025 menunjukkan statistik yang memprihatinkan, di mana satu orang meninggal dunia setiap 35 detik secara global akibat dampak dari kesepian.
Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada Juni 2025 terhadap 512 responden, ditemukan bahwa 19,97 persen peserta merasakan kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. Lebih memprihatinkan lagi, sepertiga dari responden yang merasa kesepian tersebut mengaku mengalami kondisi ini hampir setiap hari. Survei ini juga mengungkap fakta menarik mengenai kelompok usia yang paling rentan. Alih-alih kelompok lanjut usia, dampak kesepian ini justru paling banyak dirasakan oleh remaja usia 13-17 tahun dengan persentase mencapai 20,9 persen, disusul oleh kelompok usia muda 18-29 tahun sebesar 17,4 persen.
Puan Belum Bisa Pastikan Kehadiran Megawati di Sidang Tahunan MPR/DPR

Tingginya angka kesepian di kalangan generasi muda erat kaitannya dengan pola interaksi digital mereka. Sebuah penelitian dari mahasiswa Indonesia yang terpilih dalam Program Kreativitas Mahasiswa 2025 menemukan adanya hubungan yang sangat erat antara penggunaan media sosial secara berlebihan dengan timbulnya rasa kesepian, rasa tidak aman atau insecure, serta berbagai masalah kesehatan mental. Penelitian yang diberi judul "Loneliness in the Crowd" ini menggambarkan bagaimana keramaian di dunia maya sering kali berbanding terbalik dengan kondisi psikologis penggunanya. Dampak nyata dari kondisi ini dialami oleh Una Tata, seorang mahasiswi psikologi berusia 23 tahun di Surabaya. Sebagaimana diberitakan oleh Kompas, Una Tata mengalami rasa kesepian yang terus memburuk sejak masa SMA hingga bangku kuliah, yang pada akhirnya memicu munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.
Dampak buruk kesepian tidak boleh dipandang sebelah mata karena memiliki konsekuensi fatal bagi kesehatan fisik. WHO menyatakan bahwa isolasi sosial dan kesepian dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kematian dini berkisar antara 26 hingga 32 persen. Tingkat risiko kematian ini bahkan setara dengan bahaya merokok sebanyak 15 batang sehari. Secara medis, kondisi kesepian yang bersifat kronis juga diasosiasikan dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari penurunan fungsi sistem imun tubuh, gangguan tidur, peningkatan risiko gangguan kecemasan dan depresi, hingga percepatan penurunan fungsi kognitif seseorang.
Petrokimia Gresik Hadirkan Inovasi GladiAgro untuk Pulihkan Kesuburan Tanah Pertanian

Selain faktor psikologis dan penggunaan teknologi, kondisi lingkungan urban turut memengaruhi tingkat kerentanan sosial masyarakat. Tangerang dan Bekasi teridentifikasi sebagai dua kota dengan tingkat kerentanan kesepian tertinggi. Penilaian ini didasarkan pada indeks yang mengukur struktur demografis, kepadatan penduduk, kualitas ruang publik, serta ketersediaan infrastruktur sosial di wilayah tersebut. Menyikapi ancaman global ini, WHO telah mendesak negara-negara di dunia untuk segera mengambil tindakan nyata. Negara diimbau untuk menyediakan ruang-ruang sosial yang inklusif bagi warganya dan mulai memperlakukan masalah kesehatan mental sebagai tanggung jawab bersama, bukan lagi sekadar urusan domestik atau masalah pribadi masing-masing individu.






