Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan kini tengah menjadi perhatian serius setelah adanya temuan dari lapangan. Berdasarkan pemantauan udara yang dilakukan oleh aktivis lingkungan Chanee Kalaweit, diduga kuat bahwa titik api yang memicu karhutla berasal dari aktivitas pembukaan lahan. Kesaksian tersebut dibagikan oleh Chanee melalui rekaman video hasil pantauan udara yang diunggah langsung ke akun media sosial pribadinya.
Dalam pemantauannya, Chanee menyoroti bahwa sumber api sering kali muncul dari kawasan pertambangan emas ilegal. Para pelaku diduga sengaja membakar lahan di sekitar area tambang untuk memperluas wilayah operasi mereka. Sementara itu, untuk wilayah Kabupaten Barito Utara, ia mencatat bahwa titik api hampir selalu ditemukan berada di area yang dekat atau bersebelahan langsung dengan kawasan perkebunan kelapa sawit.
Kubu Ruben Onsu Buka Suara soal Kasus Dugaan Penipuan Rp3,5 Miliar

Menanggapi situasi ini, aparat kepolisian telah mengambil langkah hukum. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa pihaknya telah mengantongi sejumlah nama yang diduga terkait sebagai penyebab karhutla di wilayah Kalimantan, dan beberapa di antaranya sudah diamankan. Selain melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembukaan lahan dengan cara membakar, Kapolri juga menginstruksikan seluruh jajarannya untuk terus berupaya memadamkan sisa-sisa api di area hutan yang telah terbakar.
Di tingkat pemerintahan, Kementerian Lingkungan Hidup merespons cepat dengan mengeluarkan instruksi mendesak kepada enam gubernur di Pulau Sumatra dan Kalimantan untuk memperketat penanganan karhutla. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah perlindungan keselamatan masyarakat. Langkah ini difokuskan pada enam provinsi terdampak, yaitu Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan.
Polisi Gandeng KPAI Usut Kasus Bigmo Ajak Anak Promosi Vape

Kondisi karhutla pada periode ini diperparah oleh fenomena iklim El Nino kuat yang telah melanda Indonesia sejak Juli 2026. Akibat kebakaran yang meluas ini, kualitas udara di berbagai daerah menurun tajam akibat tingginya konsentrasi polutan PM2,5. Berdasarkan data pemantauan kualitas udara, konsentrasi PM2,5 tertinggi tercatat di Kampar, Riau dengan angka mencapai 48,84 mikrogram per meter kubik, diikuti Ogan Ilir di Sumatra Selatan sebesar 47,39 mikrogram per meter kubik. Selain itu, wilayah Katingan di Kalimantan Tengah mencatat konsentrasi sebesar 30,16 mikrogram per meter kubik, Pontianak di Kalimantan Barat sebesar 26,41 mikrogram per meter kubik, Kota Jambi sebesar 26,18 mikrogram per meter kubik, dan Banjarmasin di Kalimantan Selatan sebesar 17,40 mikrogram per meter kubik.






